Kebebasan Digital di Asia-Pasifik: Membangun Solidaritas Kawasan di Coconet II
Pertemuan masyarakat sipil dalam Coconet II yang digelar pada 20-26 Oktober 2019 di Antipolo, Rizal, Filipin

Kebebasan Digital di Asia-Pasifik: Membangun Solidaritas Kawasan di Coconet II

Senin, 28 Okt 2019

ELSAM,Antipolo-Teknologi digital telah membantu banyak aktivis di Asia-Pasifik dalam membangun kesadaran publik dan mendorong perubahan kebijakan. Berbagai produk budaya digital dihasilkan dan telah membuka mata banyak orang tentang sisi gelap pertumbuhan ekonomi, militerisme, dan populisme yang mengorbankan begitu banyak orang, termasuk kelompok rentan dan minoritas. Dunia digital mendorong orang untuk lebih ekspresif dan kritis sehingga sejumlah negara memperketat sistem hukum yang justru membuat hak-hak dasar dan kebebasan fundamental individu semakin terkekang.

Pertemuan masyarakat sipil dalam Coconet II yang digelar pada 20-26 Oktober 2019 di Antipolo, Rizal, Filipina, menjadi momen penting di tengah gegap-gempita perayaan hak-hak digital dan ancaman terhadap kebebasan sipil oleh negara.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh EngageMedia, Association of Progressive Communications (APC), dan Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) ini dihadiri lebih dari seratus aktivis, peneliti, advokat HAM, komunitas teknis, jurnalis, dan filmmaker yang memanfaatkan platform digital dalam membangun gerakan sosial maupun mendorong perubahan kebijakan.

Bersama-sama dengan partisipan Indonesia lainnya dan aktivis dari Thailand, Vietnam, dan Kamboja, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) terlibat dalam sesi diskusi mengenai kebebasan berekspresi di Asia Tenggara. Kriminalisasi terhadap kebebasan ekspresi yang sah di internet telah menjadi tren di keempat negara. Berbagai kebijakan digital disahkan untuk membungkan kritisisme, terutama terhadap pemerintah dan keluarga kerajaan, seperti yang terjadi di Thailand.

Coconet II menjangkau berbagai topik seputar hak-hak digital mulai dari surveillance, privasi, hingga kemiskinan dan hak-hak kelompok minoritas seperti kelompok masyarakat adat dan transpuan. Selama seminggu, peserta juga mendiskusikan berbagai perkembangan yang terjadi di Indonesia antara lain masalah internet shutdown di Papua termasuk sejumlah pelanggaran HAM yang terjadi di wilayah itu, aksi massa Reformasi Dikorupsi, penyalahgunaan data pribadi, penggunaan teknologi surveillance, dan sebagainya.

Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat komitmen masyarakat sipil di negara-negara kawasan dalam berjejaring dan membangun gerakan bersama. Partisipan Coconet II juga menyampaikan pernyataan dukungan terhadap aktivis di sejumlah negara yang tengah menghadapi kriminalisasi seperti Maryam Lee dari Malaysia. []

A R T I K E L T E R K A I T

Jumat, 22 Mei 2026
-ELSAM berpartisipasi dalam International Conference on Digital Platform Governance 2026 untuk membahas tata kelola platform digital berbasis HAM bersama berbagai negara. -Diskusi menyoroti bahwa platform digital bukan lagi ruang netral, sehingga moderasi konten perlu menjamin transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan kelompok rentan. -Pengalaman berbagai negara menunjukkan regulasi platform digital harus tetap menjaga kebebasan berekspresi dan mencegah penyalahgunaan kewenangan negara.
Selasa, 6 Okt 2020
ELSAM bersama Lembaga Pers Mahasiswa Gema Justicia FH Universitas Andalas Mengadakan Webinar yang bertajuk “Mengulas Cybercrime dan Pencegahannya di tengah Masyarakat Digital” pada Sabtu 26 September 2020 lalu,
+