Revisi UU Pemilu Tak Kunjung Dibahas: Demokrasi Di Persimpangan Jalan
Revisi UU Pemilu Tak Kunjung Dibahas: Demokrasi Di Persimpangan Jalan

Revisi UU Pemilu Tak Kunjung Dibahas: Demokrasi Di Persimpangan Jalan

Senin, 4 Mei 2026

Rilis Media Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kodifikasi UU Pemilu
“Revisi UU Pemilu Tak Kunjung Dibahas: Demokrasi Di Persimpangan Jalan”

Jakarta, 4 Mei 2026 – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kodifikasi Pemilu telah secara resmi melayangkan desakan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah untuk segera membahas revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum pada tanggal 9 April 2026 melalui konferensi pers. Desakan tersebut didasarkan pada hasil evaluasi komprehensif terhadap penyelenggaraan pemilu sebelumnya yang menunjukkan berbagai persoalan struktural dalam desain regulasi kepemiluan.  

DPR merespons desakan tersebut dengan menyatakan bahwa pembahasan revisi UU Pemilu tidak akan dilakukan secara terburu-buru. Padahal revisi UU 7/2017 sudah masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas sejak tahun 2025 namun sampai saat ini tidak kunjung dibahas  Pada sisi lain, masih absennya pembahasan formal revisi UU Pemilu mencerminkan pendekatan yang cenderung mengabaikan dimensi urgensi dalam pembentukan regulasi yang berkaitan langsung dengan siklus demokrasi elektoral. Dalam konteks teori legislasi, keterlambatan dalam merespons kebutuhan perubahan hukum dapat berdampak pada ketidaksiapan sistem dalam menghadapi tahapan-tahapan krusial pemilu.

Kebutuhan akan revisi UU Pemilu semakin mendesak, terutama dalam kaitannya dengan tahapan seleksi penyelenggara pemilu yang akan segera dimulai. Tanpa adanya kerangka hukum yang diperbarui, proses seleksi tersebut berpotensi berlangsung dengan menggunakan mekanisme lama yang telah terbukti menyisakan berbagai persoalan.  

Selengkapnya klik Unduh

A R T I K E L T E R K A I T

Sabtu, 23 Apr 2022
Jakarta, 22 April 2022. Sawit Watch, Perkumpulan HuMa, WALHI Nasional, ELSAM, Greenpeace Indonesia, dan PILNET mengajukan upaya administratif...
Rabu, 22 Jul 2026
Perpres ini menginstitusionalisasikan diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok keberagaman seksualitas dan identitas gender dan semakin memantik kebencian terhadap kelompok rentan tersebut secara luas di masyarakat.
+