Solidaritas untuk Jopi Bantah Keterangan Kadispen TNI AL

Solidaritas untuk Jopi Bantah Keterangan Kadispen TNI AL

Rabu, 27 Mei 2015

Solidaritas untuk Jopi membantah keterangan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama Manahan Simorangkir yang menyebut pelaku penusukan Jopi Peranginangin sedang membela diri.

Ratri Kusumohartono, juru bicara Solidaritas untuk Jopi yang juga merangkap juru bicara Sawit Watch, menyatakan keterangan Manahan tersebut bisa mengaburkan fakta sesungguhnya. "Bagaimana bisa disebut membela diri, sedangkan Jopi dalam posisi dikeroyok. Posisi tusukan juga dari belakang, dari punggung tembus ke paru-paru. TNI AL tidak boleh mengada-ada untuk menutupi kasus," ujar Ratri dalam siaran persnya di Jakarta, 27 Mei 2015.

Pernyataan Kadispen TNI AL juga menyebut kasus tewasnya pegiat lingkungan Jopi Peranginangin adalah kecelakaan yang tidak disengaja.

"Kalaupun pembunuhan, kan bukan berencana. Itu dekat dengan suatu kecelakaan. Bertengkar dan emosi. Bukan ide membunuh. Bisa jadi dia membela diri. Kita belum tahu karena diawali pertengkaran dan kondisi gelap," kata Manahan kepada media massa di Jakarta, Selasa (26/5/2015).

Pernyataan Kadispen TNI AL tersebut dinilai sebagai bentuk cuci tangan dan upaya membersihkan tangan anggota TNI yang berlumuran darah manusia tak berdosa. "TNI katanya sudah direformasi tapi cara mereka menangani kasus ini sangat meragukan. TNI Angkatan Laut telah melukai korban dan keluarganya," jata Ratri.

Solidaritas untuk Jopi mencatat serangkaian kejanggalan kasus pembunuhan Jopi. Kejanggalan tersebut antara lain: lambannya polisi mengumumkan pelaku pembunuhan. Polisi tahu-tahu telah mengirimkan berkas perkara dan melimpahkannya ke POM AL. "Ada tahapan yang dilompati yakni polisi belum mengumumkan ke publik tentang sosok pembunuh tapi tahu-tahu dilimpahkan ke Polisi Militer Angkatan Laut," ujar Ratri.

Kejanggalan berikutnya, kata Ratri, TNI AL lamban mengumumkan pelaku pembunuhan. "Kejanggalan berikutnya adalah upaya untuk membelokkan fakta. Kami curiga TNI AL sedang menyusun rencana merekayasa kasus ini untuk melindungi pelaku yang sesungguhnya. Sekarang kami bertanya, mengapa institusi TNI AL berusaha menutup-nutupi kasus ini," kata Ratri.

Solidaritas untuk Jopi meminta TNI AL membuka kasus ini setransparan mungkin dengan membuka siapa pembunuh sesungguhnya, melakukan gelar perkara seterang-terangnya.

Solidaritas untuk Jopi adalah wadah untuk menuntaskan kasus pembunuhan pegiat lingkungan Jopi Peranginangin. Jopi dibunuh pada Sabtu, 23 Mei 2015 oleh anggota TNI di depan Habibie Center seusai keluar dari Venue Cafe Kemang.

Saat hendak keluar dari klub, rombongan Jopi didatangi pria-pria tegap yang meminta segera keluar. "Finish, out! Out!," kata pria tegap itu yang dijawab oleh salah seorang rekan Jopi, "Oh iya bro, kita juga mau keluar."

Pria itu masih bicara tidak jelas ke arah A. Saat itulah, Jopi yang duduk di sebelah Amar bertanya ke A "Ada apa nih?"

Saat itulah, pria berbadan tegap itu naik pitam. Ia terlihat emosi dan mau memukul Jopi dengan menarik tangan Jopi. Tetapi teman-teman Jopi buru-buru menarik Jopi untuk keluar dari Venue, sementara teman-teman pria itu menarik tangan pria itu agar tidak marah.

Sempat terjadi keributan sebentar antara pria berbadan tegap itu dengan Jopi. Tiba-tiba pria tegap itu membuka tas selempang kecil warna cream dan ia mengeluarkan pisau bayonet sambil teriak, "Saya ini tentara!"

A sempat berusaha menghalangi pria itu dan menangkis dengan tangan kiri hingga terluka kena pisau. A lalu meminta Jopi untuk segera lari ke arah mobil.

Ternyata begitu Jopi lari, para pria berbadan tegap itu mengejar Jopi, termasuk pria yang memegang pisau bayonet. Teman-teman Jopi lalu lari mengikuti.

Di parkiran depan Habibie Center, Jopi terlihat dipukuli. Terdengar teriangan Jopi "Salah gue apa?!".

Saat rekan-rekan Jopi mendekat, Jopi menunduk di bawah pohon dan terlihat ada sedikit darah keluar dari mulutnya. Saat berusaha mengangkat Jopi untuk dibawa ke mobil, salah seorang rekan Jopi baru tahu kalau badan Jopi basah karena darah. Jopi langsung dilarikan ke RSPP, namun alam berkehendak lain, pendarahan hebat di paru-parunya akibat tusukan itu membuat nyawa Jopi tidak tertolong. Pukul 06.00 dokter menyatakan Jopi telah meninggal ***

Keterangan lebih lanjut Solidaritas untuk Jopi silahkan menghubungi Ratri Kusumohartono, +62 812 51152271

‪#‎SOLIDARITASUNTUKJOPI‬

Sekretariat: Rumah Aman

Jalan Tebet Timur Dalam Raya No.11A Kel. Tebet Timur, Kec. Tebet, Jakarta Selatan, Indonesia. Kode Pos – 12820. Telepon / Fax, : +62 8297954 / 837 06282.

AMAN, Greenpeace Indonesia, KontraS, Sawit Watch, WALHI,Institut Perempuan, YLBHI, Yayasan PUSAKA, SEBUMI, Agrarian Resource Center, Indonesia untuk Kemanusiaan, Praxis, Napas, INFID, Forest Watch Indonesia, Elsam, Pilnet, Aliansi Petani Indonesia, Serikat Petani Pasundan, KASBI

Abdon Nababan, Usman Hamid, Mahir Takaka, Mina Susana Setra, Arifin 'Monang' Saleh, Rainny Situmorang, Rukka Sombolinggi, Surti Handayani, Jhontoni Tarihoran, Yuyun Indradi, Sheila Kartika, Muh. Arman, Erasmus Cahyadi, Sinung Karto, Mualimin Pardi Dahlan, Abdi Akbar, Indah Puji Lestari, Monica Hindun Oemardi, Hariyanto, Patricia Watimena, Jeffar Lumban Gaol, Titi Pangestu, Nura Batara, Jefri Saragih. Ratri Kusumohartono, Putri Kanesia, Riyanni Djangkaru, Damairia Pakpahan, Valentina Sagala, Ruth Wijaya, Lenny Yuniarti, Wibowo Arif, Ririn Sefsani, Y.L. Franky, Edy Burmansyah, Rendro Prayogo, Michelle R Yuditha, Ibob, Adam Pantouw, Whisnu Yonar, Raharja Waluyo Jati, Longgena Ginting, Rahung Nasution, Ulin Yusron, Dewi Ratnawulan, Anik Wusari, Dhyta Caturani, Panel Barus, Alfa Gumilang, Veronica Iswinahyu, Mpok Gaga, Sinnal Blegur, Indria Fernida, Simon Pabaras, Faisal Bustamam, Ibeth Koesrini, Efi Sri Handayani, Handriatno Waseso, Rheinhard Sirait, Gery Paulandika, Buncai, Zulika Citraning Wulan, Shelly W.M, Berto Tukan, Agnes Gurning, Elza Finishya, Irine Gayatri, Wilson Obrigados, Noor Hiqmah, Fendri Ponomban, Nuraini Hilir, Magda Blegur, Khrisnawati, Ariani Djalal, Lilik HS, Mugiyanto, Solony Blegur, Alves Fonataba, Dede Arie, Roysepta Abimanyu, Robi Maulana, Hilmar Farid, Agung Putri, Pitono Adhi, Junaidi, Misno, Razip, Irwan Firdaus, Adrian Mulja, Yasmin Purba, Puthut EA, Ki Joyo Sardo, Roma Sinaga, Nia Damayanti, Sereida Tambunan, Ade Dandy Y, Tito Sianipar, Mariyam Susanna Dewi Darma, Galih Aji Prasongko, Damar Juniarto, Cathy Theodora, Bengar Gurning, Budi Wardoyo, Vivi Widyowati, Simon SH, Amalia Pulungan, Arifin Saleh, Abd.Aziz,SH, Hariyanto, Henky Satrio, Riky Aprizal, Eustobio RR, Martha Lekahena, Patricia Wattimena, Novalia Dea Larasati, Muhammad Aulia Rahman, Ricky Gumilang, Dian Setyawati, Mira Fariza, Indry Wantah, Shelly Woyla Marliane, BI Purwantari, Rita Listiawati, Bhagavad Sambadha, Carolin Monteiro, Manunggal K. Wardaya, Teguh Surya, Anggi Prasasti, Dyah Ratna Setyawati, Nurtyas Aji, Sunarno, Sumarto, Agustinus, Musrianto, Lukman Maulana, Irman Bunawolo, Anah Dianah

A R T I K E L T E R K A I T

Rabu, 10 Mei 2017
ELSAM, Bogor – Kehadiran industri sawit di suatu daerah akan mengubah struktur masyarakatnya. Mulai dari perubahan...
Kamis, 27 Mei 2021
Dengan mempertimbangkan permasalahan dan dinamika ekonomi politik di atas laporan “Derap Perlawanan di Tengah Badai Ancaman”...
+