Webinar “Mengulas Cybercrime dan Pencegahannya di Tengah Masyarakat Digital”

ELSAM, Jakarta—Beberapa waktu terakhir, terjadi serangan digital terhadap para aktivis, akademisi, mahasiswa, bahkan komika. Serangan tersebut meliputi peniruan akun (impersonatiton), mengumbar identitas (doxing),peretasan, teror, penyadapan dan pengawasan ilegal (unlawful breach and illegal surveillance), zoom bombing, kriminalisasi, hingga ancaman persekusi.

Terkait dengan maraknya serangan digital yang terjadi, ELSAM bersama Lembaga Pers Mahasiswa Gema Justicia FH Universitas Andalas Mengadakan Webinar yang bertajuk “Mengulas Cybercrime dan Pencegahannya di tengah Masyarakat Digital” pada Sabtu 26 September 2020 lalu,

Webinar yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan kanal Youtube Perkumpulan ELSAM ini dipandu oleh Randy Handika (Gema Justisia FH Universitas Andalas) dan dihadiri oleh dua narasumber yakni Dr. Yoserwan S.H., M.H., LLM. (Dosen Hukum Pidana FH Universitas Andalas) dan Alia Yofira (Peneliti ELSAM).

Penyelenggaraan diskusi ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, membangun pemahaman publik mengenai kejahatan siber serta ancamannya terhadap privasi dan data pribadi.

Kedua, membangun pemahaman publik mengenai bentuk-bentuk kejahatan siber serta upaya-upaya pencegahannya,  dan ketiga, memetakan upaya pemberantasan kejahatan siber melalui undang-undang.

Diskusi diawali dengan paparan Alia Yofira yang menjabarkan mengenai definisi, ruang lingkup dan jenis-jenis kejahtan siber serta tindakan-tindakan pencegahan yang dapat diambil.

“Cybercrime pada dasarnya terbagi menjadi dua yakni cyber-enabled crime (kejahatan konvensional yang dampaknya teramplifikasi karena penggunaan TIK, seperti pornografi online, perjudian online, dst) dan cyber-dependant crime (kejahatan yang hanya dapat dilakukan dengan penggunaan TIK, seperti peretasan, malware, phishing, serangan DDOS, dst), ujar Alia.

Selain itu, Alia juga turut memberikan beberapa rekomendasi terkait keamanan digital yang dapat diimplementasikan oleh masyarakat secara umum, yakni memperkuat kata sandi, menyalakan fitur otentikasi dua langkah, menggunakan aplikasi yang terenkripsi, dan lain-lain.

Diskusi dilanjutkan dengan paparan dari Dr. Yoserwan, S.H., M.H., LLM., yang menjabarkan mengenai pemberantasan kejahatan siber di Indonesia.

“Upaya penanggulangan kejahatan dapat dilakukan melalui dua jalur yakni jalur penal (penal policy) dan non-penal (non-penal policy). Upaya non-penal menitikberatkan pada sifat preventive atau pencegahan, penangkalan, atau pengendalian sebelum terjadi, sedangkan upaya penal menitikberatkan pada sifat repressive atau penindakan dan pemberantasan sesudah kejahatan terjadi,” ujar Yoserwan.

Selain itu, Yoserwan juga menjelaskan beberapa instrumen hukum nasional yang kerap dijadikan acuan dalam penanggulangan kejahatan siber di Indonesia seperti KUHP, KUHAP, UU ITE, UU Tindak Pidana Pencucian Uang, UU Pers, UU Telekomunikasi, dan lain-lain.

Webinar tentang kejahatan siber dan pencegahannya ini masih dapat diikuti di kanal Youtube Perkumpulan ELSAM (https://www.youtube.com/watch?v=Vs5CAU3jVPE)

Alia Yofira