Suraiya Kamaruzzaman

Suraiya Kamaruzzaman (lahir tanggal 3 Juni 1968) di Kabupaten Aceh Besar, adalah aktivis hak perempuan dan pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat  yang mengkonsentrasikan diri pada pemberdayaan dan penguatan perempuan bernama Flower Aceh pada tanggal 23 September 1989. Suraiya dianugerahi penghargaan perdamaian UNDP N-Peace Award  atas upayanya melakukan peningkatan kapasitas dan advokasi pemenuhan hak perempuan Aceh, terutama perempuan yang terpinggirkan dari akses ekonomi dan korban kekerasan seksual yang terperangkap dalam konflik bersenjata. Pada wawancaranya dengan BBC ia menuturkan bahwa pada Februari 2000 perempuan-perempuan Aceh menyelenggarakan Duek Pakat Inong Aceh (Kongres Perempuan Aceh yang pertama) dimana Ia menjadi Ketua Steering Comitte. Kongres dihadiri 500 perempuan dari berbagai kabupaten/kota dan berbagai latar belakang dengan mengangkat tema perempuan dan perdamaian. Suraiya percaya upaya awal penyelesaian konflik Aceh melalui dialog damai itu dilakukan perempuan. Paska Kongres Suraiya bersama empat perempuan Aceh menghadap Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid untuk melakukan lobby agar penyelesaian konflik di Aceh dilaksanakan dengan cara mengedepankan dialog damai dan menghentikan pendekatan militerisme. Mereka juga menyampaikan seluruh hasil rekomendasi dari kongres Perempuan Aceh. Namun lima tahun kemudian, ketika kesepakatan damai antara Pemerintah Indonesia dan GAM yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia tidak menyertakan perempuan dalam lima tim negosiator resmi yang mewakili kedua belah pihak. Hal ini berakibat bahwa permasalahan perempuan dalam wilayah konflik tidak menjadi permasalahan yang didiskusikan serta tidak menjadi bagian kesepakatan dalam MOU perdamaian, peran perempuan dalam dialog perdamaian secara formal dinafikan.

Selama konflik bersenjata di Aceh, Ia aktif mengkampanyekan pemenuhan hak-hak perempuan di Aceh di berbagai wilayah di Indonesia dan berbicara di berbagai negara melalui konprensi-konprensi, lobby ataupun mengikuti sidang-sidang PBB di Geneva.

Pada saat 49th CEDAW session': di New York, dengan dukungan IWRAW (International Women’s Rights Action Watch) Asia Pacific, Ia menyampaikan '’an Oral and written Statement on Aceh, commencing the Committee’s process of elaborating a “General Recommendation on Women in Conflict and Post-conflict Situations'' . Tujuan dari rekomendasi umum adalah untuk memberikan masukan yang tepat kepada Negara yang ikut menandatangani Konvensi CEDAW tentang tindakan yang akan diambil untuk memastikan kepatuhan dengan kewajibannya untuk melindungi, menghormati dan memenuhi hak-hak asasi perempuan selama masa konflik bersenjata dan dalam semua proses pembangunan perdamaian, yang meliputi segera setelah konflik dan rekonstruksi paska-konflik jangka panjang.

Suraiya  juga mempromosikan partisipasi Perempuan dalam perdamaian melalui tulisan yang dimuat dalam berbagai media, seperti Women and the war in Aceh in Inside Indonesia ; Violence, internal displacement and its impact on the women of Aceh in Charles A. Coppel (Editor) "Violent Conflicts in Indonesia Analysis, Representation, Resolution ; Agent for change: the role of women in Aceh’s peace process, in Agus Wandi & Judith Large (editor) Reconfiguring politics: The Indonesia-Aceh peace process.; "Gerakan perempuan di Aceh paska tsunami: sejauh mana tantangan dan peluang?” dalam buku kompilasi “Perempuan Aceh Bicara”

Pada tahun 2009, Ia menjadi Gender Analysis Consultant bagi Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang difasilitasi UNFPA untuk memberikan masukan-masukan tentang prinsip keadilan, Gender mainstreaming dan konsep Resolusi UNSRCS 1325 pada draf UU Konflik Sosial. Ia juga bekerja sama dengan  ICAN (International Civil Society Action Network) dan MIT (Center for International Studies) menjadi periset dilapangan dengan judul  What the Women say, participation and UNSCR 1325 dan terlibat serangkaian kampanye untuk UNSCR 1325 di New York dan Washington DC bersama ICAN-MIT  .  Dia juga menjadi Projek Koordinator publikasi buku  Acehnese Women's Speak after Tsunami and Conflict, yang merupakan kerjasama Flower Aceh dan UN Women.