Strategi Penguatan Kapasitas Pembela HAM di Tengah Situasi Hak Asasi Manusia yang Terus Berdinamika

ELSAM-Manokwari-13 Oktober 2017. Delapan Peserta Kursus Dasar Pembela HAM Angkatan V yang diselenggarakan oleh ELSAM mengikuti workhsop menulis hasil riset lapangan. Kegiatan yang merupakan bagian dari aktivitas pendokumentasian situasi hak asasi manusia di wilayah rentan konflik tersebut diselenggarakan selama empat hari, 9-12 Oktober 2017 di Manokwari Papua Barat

Sebelumnya, delapan orang tersebut telah menempuh proses belajar sama-sama di Jakarta selama empat bulan, Februari-Juni 2017 dalam forum Kursus Dasar Pembela HAM. Kursus ini memiliki kekhususan pada materi pendokumentasian dengan memperhatikan faktor keamanan. Angkatan V kursus ini diikuti oleh sembilan orang Pembela HAM Muda dari berbagai wilayah, yaitu Aceh, NTT, Sulawesi, Kepulauan Aru, Papua dan Papua Barat, yang berasal dari berbagai lembaga seperti AMAN Kepulauan Aru, WALHI NTT, Flower Aceh, LAPAR Makassar, SKPKC Fransisikan Papua, GempaR Manokwari dengan perekomendasi LP3BH, YTHP Wamena, Lepemawil Mimti, dan TIKI Jaringan Perempuan HAM Papua.

Dalam penyelenggaraan Kursus Dasar Pembela HAM, baru pada Angkatan ini ELSAM melakukan sebaran wilayah peserta. Sebelumnya pada angkatan I-IV, peserta hanya Pembela HAM dari Papua dan Papua Barat saja.

“Pada kursus angkatan sebelumnya (angkatan IV-red), kami seperti melihat Papua dalam skala kecil. Dan kali ini, melihat kursus angkatan V, adalah melihat Indonesia. Pembauran dilakukan karena ada kebutuhan untuk itu. Di mana peserta satu sama lain dapat berbagi pengalaman advokasi, hambatan dan tantangannya sesuai konteks wilayah masing-masing. Keragaman ini juga diharapkan akan memperkaya jaringan kerja para pembela HAM di seluruh Indonesia, khususnya wilayah rentan konflik, dalam melakukan advokasi pelanggaran HAM”, terang Adiani Viviana, pengelola Kursus bagi Pembela HAM dari ELSAM.

Berbagai materi dan pengalaman sepanjang empat bulan tersebut, selanjutnya dipraktekan oleh peserta dalam riset lapangan di wilayah masing-masing. Proses riset mandiri tersebut dilakukan selama tiga bulan, dengan sebelumnya masing-masing peserta menyusun desain riset dengan mentoring tim ELSAM. Isu yang diangkat oleh peserta kursus angkatan V cukup beragam. Mulai dari isu kekerasan seksual terhadap perempuan di wilayah perbatasan, trantitional justice, isu pendidikan di wilayah rentan konflik, bisnis dan hak asasi manusia yang mencakup tematik isu hak atas akses kesehatan, agraria, dampak beroperasinya korporasi dan pembangunan infrastruktur terhadap masyarakat adat hingga indikasi korupsi di dalamnya. Isu-isu tersebut merupakan fokus atau keseharian kerja advokasi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga peserta Kursus Dasar Pembela HAM.

Hampir seluruh peserta workshop memfokuskan energinya untuk melihat kembali draft laporan risetnya. Workshop ini juga tetap menggunakan metode pendidikan orang dewasa. Selain editing individu, mentoring dan konsultasi dengan tim mentor juga berlangsung intens. Tim mentor dalam workshop kali ini adalah Adiani Viviana dari ELSAM dan Bambang Wisudo, jurnalis senior yang juga pegiat pendidikan.

Para peserta mengatakan, bahwa workshop ini sangat penting, dan diperlukan oleh mereka. Workshop yang diselenggarakan ini sangat membantu dalam menstruktur ulang, memperhalus dan mempertajam tulisan mereka, apalagi tulisan itu akan dipublikasikan dan dibaca oleh publik. Bagaimana pula menggunakan instrumen hak asasi manusia sebagai alat analisa atau kerangkanya.

“Saya merasa sangat senang berada dalam kegiatan ini. Dan terbantu sekali dalam belajar menulis. Selama ini kami pandai bicara saja, panjang lebar. Kalaupun menulis, tulisan kami mungkin masih relatif provokatif. Sebagai pembela HAM, saya menemukan hal baru melalui tulisan”, kata Septi Meidodga peserta dari Manokwari, di akhir kegiatan workshop pada sesi evaluasi dan rekomendasi.
Hal senada disampaikan oleh Indrawati Sembe dari Kupang:

“Perjalanan dari kursus sampai workshop ini merupakan proses yang sangat bagus bagi saya. Apalagi dalam workshop ini, merupakan pengalaman baru. Bagaimana menulis yang baik, menyatukannya dengan kerangka HAM, bagaimana antar paragraf menjadi kesatuan yang enak dibaca”, katanya.

Peserta lain, Adolfina dari Timika juga mengamini kedua temannya, menurutnya workshop ini sangat berharga baginya. Ia menyadari, sebagai Pembela HAM harus mampu menulis, bukan hanya bicara saja. Di tengah kesibukan pendampingan korban, harus menyempatkan diri menulis. Begitu juga Haroly dari Kepulauan Aru, ia memperoleh masukan-masukan detail untuk tulisannya dalam workshop ini. Ini merupakan pengalaman menulis investigasi yang pertama baginya. Ia akan membagi pengalamannya di lingkungan organisasinya di Kepulauan Aru.

Dalam kesempatan workshop di Manokwari ini, peserta juga melakukan kunjungan atau NGO visit ke LP3BH yang pada 12 Oktober 2017 merayakan hari jadinya yang ke 21.Workshop menulis ELSAM berakhir pada 12 Oktober 2017. Dengan berakhirnya workshop, maka berakhir pula program Kursus Dasar Pembela HAM angkatan lima yang telah berlangsung selama tujuh bulan. Dalam penutupannya, Adiani Viviana menyampaikan pada peserta, bahwa hendaknya ini bukanlah akhir dan terakhir peserta menulis, namun menjadi awal lahirnya tulisan-tulisan dari para pembela HAM muda serta awal bagi mereka untuk memperkuat jaringan kerja advokasi. “Keragaman yang kita miliki hendaknya dapat menjadi kekuatan kita”, katanya.

“Sebagai pembela HAM kita bisa berjuang melalui tulisan. Jadikan pena senjata kita. Mulai hari ini, mari kita coba lebih peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dimana kita sedang berada. Semangat menulis harus dimulai dari aktivis-aktivis yang langsung bersentuhan dengan permasalahan di tingkat akar rumput. Dengan begitu suara akar rumput akan terdengar dan bergema ke ruang-ruang yang lebih besar”, pungkas Adiani Viviana.

Penulis: Dara Hilda Maisyita (Flower Aceh) – Alumni Kursus Dasar pembela HAM Angk. V
Editor: Diany