Safer Internet Day: Pentingnya Membangun Ruang Aman di Internet

Selama delapan belas tahun terakhir, Safer Internet Day (SID), yang diperingati setiap tanggal 9 Februari, telah menjadi momentum penting dalam mendorong penggunaan teknologi internet yang lebih aman untuk semua orang, khususnya anak-anak dan remaja. SID pertama kali diperingati pada 2004 di bawah Rencana Aksi Internet Aman (Safer Internet Action Plan) pertama. Sebuah inisiatif proyek SafeBoarders yang dibiayai oleh Uni Eropa, dan diambil alih oleh Insafe, jaringan Safer Internet Centers. Sampai saat ini, SID telah berkembang melampaui zona geografis, dan dirayakan oleh lebih dari 170 negara di dunia, termasuk Indonesia. Memperingati SID yang ke-18 ini, SID mengangkat slogan ‘Together for a better internet’, yang maknanya adalah menciptakan internet yang lebih baik secara bersama-sama.

Internet sendiri sesungguhnya bukanlah suatu instrumen kejahatan yang harus dikhawatirkan, melainkan sarana yang melahirkan banyak inovasi dan kesempatan. Memperingati SID, harus pula ditekankan bahwa internet bisa menjadi ruang yang aman bagi setiap orang untuk mengaktualisasikan ekspresi dan pendapatnya. Terlebih, baru-baru ini Presiden Jokowi menghimbau masyarakat untuk lebih aktif menyampaikan kritik dan memberi masukan kepada pemerintah (8/1). Tentu, ajakan tersebut tidak boleh hanya menjadi ‘pemanis bibir’, harus disertai dengan jaminan perlindungan kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Dalam situasi pandemi COVID-19 saat ini, internet menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang, karena harus melakukan berbagai aktivitas secara jarak jauh, seperti belajar atau bekerja dari rumah. Dengan begitu, internet menjadi satu-satunya pilihan yang mau tidak mau harus dipilih. Pew Research Center, sebuah ‘nonpartisan fact tank’ di Washington DC, pada 2019 menemukan, bahwa orang yang lebih muda lebih banyak menggunakan internet dibandingkan orang-orang yang lebih tua. Studi itu menunjukkan 89% orang berusia 18 sampai 29 tahun di Indonesia menggunakan internet. Fakta ini sejalan dengan tujuan SID untuk meningkatkan kesadaran, perlindungan, dan pemberdayaan anak-anak dan remaja dalam aktivitas daring.

Privasi menjadi salah satu kunci untuk menciptakan internet yang aman. Sayangnya, di Indonesia kesadaran dan penghargaan terhadap privasi bisa dikatakan belum cukup baik. Sepanjang 2020 sampai awal 2021 ini saja, setidaknya telah terjadi berbagai insiden kebocoran data pribadi yang notabene dikelola dengan memanfaatkan teknologi internet. Situasi itu tentunya tidak sejalan dengan tujuan dari keamanan internet itu sendiri, yang menghendaki adanya kerahasiaan (confidentiality), integritas (integrity), dan ketersediaan (availability), setiap data dan informasi dari penggunanya.

Rentetan insiden tersebut, sekaligus juga mencerminkan belum optimalnya keamanan di internet, dikarenakan belum adanya kebijakan yang memadai dan komprehensif, yang dapat dijadikan rujukan untuk menjamin keamanan individu, perangkat, dan jaringan internet. Misalnya sampai dengan saat ini, pemerintah dan DPR belum kunjung mengesahkan RUU Pelindungan Data Pribadi, serta kebutuhan adanya suatu legislasi keamanan siber yang menekankan pada pendekatan yang berbasis pada manusia (human centric approach). Hadirnya berbagai kebijakan itu harapannya selain dapat menjadi rujukan dalam pemanfaatan, termasuk bagi penyedia layanan internet (akses dan konten) dan intermediaries, dalam menyusun kebijakan internal perlindungan pengguna mereka, juga dapat mendorong tumbuhnya kesadaran publik untuk menggunakan internet secara aman.

Berangkat dari situasi itu, bersamaan dengan momentum SID 2021, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), mendorong pengambil kebijakan (pemerintah dan DPR), untuk lebih fokus dan berkomitmen, guna menghadirkan berbagai kebijakan, yang memastikan ruang aman di internet, dengan memperhatikan berbagai prinsip hak asasi manusia. Perlindungan kebebasan berekspresi, hak atas privasi, dan berbagai hak asasi manusia lainnya, merupakan instrumen kunci dalam membangun ruang aman di internet, sekaligus menjamin internet tetap sebagai instrumen yang mendukung (enabling) dan memberdayakan (empowering). Industri yang juga merupakan pemangku kepentingan kunci dalam pemanfaatan teknologi internet juga perlu memastikan pengembangan model bisnis yang memberdayakan dan melindungi penggunanya. Selain itu, seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri, dan organisasi masyarakat sipil, juga perlu terus melakukan edukasi ke masyarakat, khususnya terkait dengan pentingnya melindungi privasi dan keamanan di internet.

Jakarta, 10 Februari 2021

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)

Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi: Wahyudi Djafar (Direktur Eksekutif), telepon: 081382083993; Lintang Setianti (Peneliti); telepon: 085711624684; atau Shevierra Danmadiyah (Peneliti), telepon: 087885476336.