Privacy and Digital Security Workshop: Sosialisasi dan Diskusi Pelindungan Data Pribadi bersama Mahasiswa

ELSAM, Jakarta—Selama tiga hari berturut-turut (28-30 Juli 2020) ELSAM menyelenggarakan Privacy and Digital Security Workshop secara daring untuk para mahasiswa.

Kegiatan ini diikuti oleh 16 mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Diisi oleh para pemateri yang andal di bidang privasi dan keamanan digital, yakni Wahyudi Djafar (ELSAM), Irene Poetranto (Citizen Lab), dan Resa Temaputra (KEMUDI), workshop ini dapat menjadi saluran sosialisasi dan berbagi pengetahuan tentang seluk beluk data pribadi dan pelindungannya.

Dalam worshop ini peserta diajak untuk berdiskusi tentang berbagai topik, mulai dari konsep privasi dan pelindungan data pribadi, dampak dan praktik terkini surveillance, hingga soal keamanan digital.

Melalui tema-tema tersebut diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang hak atas privasi dan pelindungan data pribadi, pola ancaman surveillance dan kekerasan secara digital, serta mampu memetakan strategi mitigasi risiko gangguan dan serangan digital.

Saat ini data dinilai sebagai sesuatu yang paling menguntungkan. Anggapan ini menurut  Wahyudi telah berhasil mengalihkan perhatian pelaku industri dari yang semula berlomba-lomba menguasai sumber daya ekstraktif menjadi bagaimana menjadi pengumpul data berskala besar. Literasi tentang pelindungan data pribadi diperlukan sebab praktik pengumpulan data memiliki berisiko penyalahgunaan data pribadi dan mengancam privasi subjek data.

“Hak atas privasi menjadi penting lantaran privasi sangat erat dengan hak-hak asasi manusia lainnya, terlebih untuk memastikan reputasi dan kemerdekaan seseorang,” kata Wahyudi.

Menurut Wahyudi setidaknya terdapat empat isu penting ketika membicarakan masalah pelindungan data pribadi di Indonesia.

Pertama, belum ada kesatuan hukum mengenai pelindungan data pribadi dan intersepsi komunikasi.

Kedua, pesatnya teknologi dan komunikasi yang memunculkan beragam inovasi.

Ketiga, perkembangan pesatberbagai platform digital. Dan keempat, lemahnya kesadaran publik terkait perlindungan data pribadi.

Memparkan topik tentang teknologi untuk memata-mati dan mengawasi (surveillance) warga negara, Irene Poetranto menyebut bahwa pandemi COVID-19 justru menjadi babak baru penerapan surveillance. 

 “Keberadaan COVID-19 saat ini menjadikan surveillance tidak hanya over the skin surveillance tetapi juga under the skin surveillance,” tutur Irene.

Sayangnya, lanjut Irene, negara belum memiliki pengaturan yang memadai tentang praktik ini.

Perkembangan teknologi digital tak hanya memberi manfaat tapi juga menimbulkan bahaya. Salah satunya adalah lahirnya serangan digital. Menurut Resa serangan digital setidaknya dilakukan melalui dua bentuk.

Pertama, phising, di mana seseorang diminta untuk mengunjungi sebuah website untuk memberikan data dan informasi kata sandi. Contohnya, bisa melalui SMS ataupun  email yang menyatakan bahwa sebuah akun belum diverifikasi.

Kedua, social engineering, sebuah manipulasi eksploitasi kesalahan manusia untuk mendapatkan akses dan informasi pribadi berharga seseorang.

“Keamanan digital memiliki tiga prinsip, yakni manajemen identitas, komunikasi yang terenkripsi, dan basic device hygiene,” kata Resa.

Prinsip tersebut menurutnya penting diterapkan guna melindungi diri dari berbagai kemungkinan ancaman atau serangan digital.

Kegiatan Privacy and Digital Security Workshop ini merupakan bagian pertama dari rangkaian workshop serupa yang rencanaya akan digelar ELSAM di berbagai kampus di Indonesia.

Penulis: Shevierra Danmadiyah