Pengembangan Identitas Digital Nasional Perlu Perencanaan yang Matang

ELSAM, Jakarta—Pengembangan sistem identitas nasional berbasis KTP elektronik menjanjikan banyak kemudahan dan manfaat. Salah satu yang paling sederhana adalah membuat kita tidak perlu lagi mengingat banyak data untuk mendapatkan layanan, baik dari pemerintah maupun pihak swasta.

Direktur Tata Kelola Aplikasi Informatika, Ditjen Aptika, Kominfo Mariam F. Barata mengatakan, saat ini pemerintah terus melengkapi kekurangan dalam pengembangan sistem identitas digital nasional. Beberapa lapisan dalam sistem identitas digital menurut Mariam sudah terpenuhi.

“Satu hal yang belum ada adalah identity authentication, yang saat ini sedang dirintis oleh Kemendagri, di mana nantinya pemilik data pribadi dapat membuktikan ‘benar dia yang melakukan akses ke sumber data’,” ujar Mariam dalam webinar “Identitas Digital: Konsep Pengembangan dan Pelindungannya” yang diselenggarakan oleh ELSAM bersama dengan ALSA UNAIR, Kamis (10/12).

Adapun lapisan lain dalam sistem identitas digital yang sudah terpenuhi itu meliputi otorisasi data, yaitu pemilik data sudah dapat memberikan akses data pribadi terhadap pihak ketiga.

Lapisan berikutnya adalah transaksi yang dilakukan tanpa uang tunai. Transaksi keuangan seperti membeli barang dapat dilakukan secara digital melalui gawai.

Lalu saat ini juga masyarakat juga dapat membuat persetujuan untuk mendapat layanan tertentu tanpa harus menulis di lembar persetujuan (paperless layer).

Hal lain yang terkait dengan sistem identitas digital yang ada saat ini adalah sumber yang dapat dipercaya yang dapat menjadi jaminan identitas seseorang dan tersedianya akses internet.

Meski mendatangkan banyak manfaat, pengembangan identitas digital nasional sebenarnya juga memiliki sejumlah tantangan. Hal ini ditekankan oleh Masitoh Indriani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang juga menjadi pembicara dalam webinar tersebut.

“Selain keuntungan yang disediakan identitas digital ini, juga ada beberapa ancaman. Dengan menyediakan identitas digital ini, tugas beratnya adalah memastikan adanya perlindungan data,” ujar Masitoh.

Lebih jauh Masitoh menyebut tantangan apa saja dalam pengembangan identitas digital. Masalah tersebut menurutnya mencakup keamanan dan perlindungan atas privasi.

“Sistem identitas nasional mengolah data yang sangat besar sehingga potensi penyalahgunaan data juga semakin besar,” katanya.

Tantangan lain yang perlu mendapat perhatian menurutnya adalah soal keberlanjutan. Pengembangan identitas nasional merupakan proyek besar yang memakan banyak biaya. Selain itu, proyek ini juga membutuhkan sumber daya yang luar biasa.

“Kita sudah ada program e-KTP, nah selanjutnya harus apa dan bagaimana. Ini harus direncakan matang sebelumnya,” lanjut Masitoh.

Ancaman terakhir menurut Masitoh terkait dengan teknologi. Teknologi berkembang dengan cepat. Teknologi yang digunakan dalam pengembangan identitas digital perlu terus diperbarui seiring perkembangan yang terjadi padanya.

Identitas digital sejatinya memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari e-KTP atau program identitas nasional yang dikembangkan oleh pemerintah.

Selain e-KTP identitas digital juga mencakup bentuk-bentuk identitas digital lainnya yang dikelola oleh pihak swasta. Demikian dikatakan peneliti ELSAM Alia Yofira Karunian dalam forum yang sama.

Sebagai lembaga yang memiliki fokus kajian di bidang dunia digital, ELSAM kata Alia menawarkan prinsip panduan untuk tata kelola identitas digital di Indonesia.

“Kami telah melakukan beberapa konsultasi dengan multi-stakeholder, beberapa ada pemerintah, civil organization, teman-teman di industri, kemudian menawarkan guiding principles mengenai panduan tata kelola dari identitas digital di Indonesia sembari menunggu UU Pelindungan Data Pribadi dan UU Keamanan Siber,” ujar Alia.

Shevierra Danmadiyah

Catatan: serial webinar tentang identitas digital dapat diikuti di Youtube Perkumpulan ELSAM