Pembongkaran Kuburan Massal Peristiwa 1965 di Dusun Masean, Jembrana

ELSAM, Jembrana – Walaupun upaya penyelesaian dan rekonsiliasi peristiwa 1965 mengalami kemandekan di tingkat nasional, namun warga Banjar (dusun) Masean, Desa Batuagung, Kabupaten Jembrana, Bali memiliki caranya sendiri untuk mengupayakan rekonsiliasi di tingkat lokal secara damai. Dengan mengandalkan keyakinan dan kepercayaan masyarakat setempat, warga Desa Batugagung, yang jaraknya sekitar 3 jam dari Denpasar ini, bersepakat untuk membongkar kuburan massal peristiwa 1965 pada Kamis (29/10). ELSAM mendukung dan berkesempatan hadir dalam proses pembongkaran kuburan massal tersebut.

Beberapa bulan terakhir ini warga desa Batuagung bergotong royong menyiapkan upacara Pitra Yadnya, yakni upacara agama untuk orang yang sudah meninggal. Warga desa Batuagung juga mengumpulkan dana secara kolektif untuk membiayai pembongkaran kuburan massal tersebut serta untuk kebutuhan prosesi upacara.

Pembongkaran kuburan massal yang berada di bawah jalan utama yang menghubungkan dua banjar (dusun), yakni Banjar Masean dan Banjar Pancaseming ini, dilakukan sejak pagi hari. Ratusan warga desa Batugaung, yang berpakaian adat Bali, sudah menyemut di lokasi pembongkaran kuburan massal itu sejak pukul 07.00 WITA. Sebuah alat berat mesin pengeruk, yang merupakan sumbangan dari Ketua DPRD Jembrana I Ketut Sugiasa, mulai bekerja mencari sisa tulang belulang yang terkubur sejak 50 tahun silam.

“Memang di banjar kami ada kuburan massal para korban G30S,” ujar Kelian Adat Masean Ida Bagus Ketut Siwa.

Menurutnya, kuburan massal itu berada di pinggir jalan desa, tepatnya di depan SDN 3 Batuagung. Fakta itu didapat dari pengumpulan data berikut hasil Parman tokoh dan masyarakat serta meminta keterangan sejumlah saksi hidup yang mengetahui peristiwa tersebut. Salah satu saksi hidup yang dimintai keterangan oleh warga adalah Ida Bagus Ketut Krenda alias Kakiang Krenda yang berusia 90 tahun.

Siwa mengungkapkan dasar pembongkaran tersebut dengan pertimbangan bahwa lokasi kuburan massal itu bukan kuburan yang layak. Selama puluhan tahun, menurutnya, warga dihantui berbagai peristiwa buruk karena ada kumpulan jenazah yang ditimbun di wilayah banjar Masean, yang bukan kuburan desa.

Hal tersebut juga diperkuat oleh Wakil Perbekel atau Wakil Kepala Desa Ida Bagus Suliksa.

“Banyak kejadian aneh di desa. Warga sepakat harus diangkat dan diupacarai sebagaimana mestinya,” katanya.

Suliksa menambahkan pembongkaran kuburan peristiwa 1965 ini juga adalah wujud penghormatan bagi mereka yang harus jadi korban dalam suasana politik yang memanas saat itu.

“Sebagai umat Hindu, kita meyakini yang meniggal harus dapat upacara agar arwah mereka tenang. Belum tentu juga mereka bersalah,” katanya sambil siaga memandu proses pembongkaran lewat pengeras suara.

Sementara menurut ketua panitia pembongkaran kuburan massal Ida Bagus Ketut Mariana, sebelumnya ada 11 jenazah yang dikubur di sekitar lokasi tersebut. Tetapi dua jenazah yang merupakan kakak beradik dari desa sekitar, menurutnya, sudah dibongkar dan diupacarai secara pribadi oleh keluarganya pada 1984.

“Karena itu masih tersisa sembilan jenazah,” tambah Mariana.

Data atas keberadaan jenazah tersebut memang didapatkan dari pengumpulan cerita warga, termasuk salah satu saksi hidup, Ida Bagus Ketut Krenda alias Kakiang Krenda yang berusia 90 tahun. Menurutnya, sisa kesembilan jenazah tersebut dipetakan tersebar dalam lima lubang sepanjang 50 meter di sisi jalan yang dibongkar.

Di lubang pertama, yakni Ida Kade Putra, yang keluarganya ada di Banjar Masean. Sedangkan di lubang kedua, diisi dua jenazah, masing-masing Ida Komang Suja dan Ida Putu Sedang, yang keluarganya berada di Banjar Pancaseming. Kemudian di lubang ketiga juga ada dua jenazah, yakni Gusti Putu Wira yang keluarganya ada di Banjar Pancaseming, dan Gusti Putu Sandra yang keluarganya ada di Banjar Masean.

Selanjutnya pada lubang keempat juga ada dua jenazah, yakni Gusti Kade Wira yang keluarganya ada di Banjar Masean dan I Ketut Sundia yang keluarganya di Banjar Pancaseming. Sedangkan lubang kelima juga diisi dua jenazah, yang diketahui bernama Pak Pugig dan Wayan Gandra, yang keluarganya masih belum diketahui. Namun dari cerita warga, Pak Pugig sempat mengaku dari Pandak, Tabanan. Sedangkan Wayan Gandra dari Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara, Jembrana.

Tulang belulang pun ditemukan di kedalaman 1,5 meter dari permukaan tanah. Namun letaknya bergeser sekitar satu sampai 1,5 meter ke arah Barat dari tanda semula. Setelah sisa-sisa jenazah ditemukan, selanjutnya upacara pengabanen massal dilakukan oleh warga. Abunya kemudian diucaparai sebelum dilarung ke laut.

“Pengabenan dan pencaruan (pembersihan) desa dilakukan oleh pihak Desa Pakraman Batuagung. Pihak keluarga kami tidak mintai biaya,” tutup Bendesa Pakraman Batuagung Ida Bagus Mantra.

Warga desa Batuagung terlihat bersuka cita karena proses pembongkaran hingga pelarungan berlangsung dengan lancar. Upaya saling menyadari peristiwa kelam di masa lalu dengan saling bahu membahu melaksanakan pembongkaran dan ritual ini secara bersama-sama menjadi lebih penting dan bermakna, dibandingkan elit penguasa yang tetap ingin melanggengkan stigma dengan melarang segala bentuk diskusi peristiwa 1965.[]

Penulis: Ari Yurino