Pemanfaatan Aplikasi PeduliLindungi Harus Sejalan dengan Prinsip-Prinsip Pelindungan Data Pribadi

ELSAM, Jakarta—Dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19 pemerintah meluncurkan aplikasi penelusuran kontak pada 26 Maret 2020 lalu melalui Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 159/2000.

Aplikasi bernama PeduliLindungi (semula Trace Together) tersebut dikembangkan oleh Kementerian Kominfo, Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB), dan operator telekomunikasi.  

PeduliLindungi diklaim dapat melakukan tracing (penelusuran), tracking (pelacakan), dan fencing (pengurungan) pasien positif COVID-19 dan interaksinya dengan lingkungan sekitar menggunakan teknologi Bluetooth.

Sehubungan dengan peluncuran aplikasi dan risiko yang timbul dalam penggunaan aplikasi tersebut ELSAM dan Koalisi Advokasi Pelindungan Data Pribadi (KA-PDP) mengadakan Diskusi Online #2bertajuk “Pelindungan Data Pribadi dalam Aplikasi PeduliLindungi”, Selasa (21/4/2020).

Diskusi dipandu oleh Wahyudi Djafar (Deputi Direktur Riset ELSAM) dan melibatkan tiga narasumber, yaitu Hendri Sasmita Yuda (Kasubdit Perlindungan Data Pribadi APTIKA Kominfo), Irene Poetranto (Senior Researcher Citizen Lab) dan Alia Yofira (Peneliti ELSAM).

Adapun tujuan umum diskusi ini adalah untuk memahami penggunaan teknologi dalam penanggulangan COVID-19 di berbagai negara. Secara khusus diskusi ini bertujuan untuk memahami cara kerja aplikasi PeduliLindungi, apa saja jenis data yang dikumpulkan, bagaimana mekanisme pelindungan data pribadi yang diimplementasikan Kominfo dalam aplikasi tersebut, serta mendiskusikan efektivitas aplikasi PeduliLindungi dalam pencegahan penyebaran COVID-19.

Dalam paparannya Alia Yofira menekankan bahwa penggunaan PeduliLindungi harus tunduk pada prinsip-prinsip pelindungan data pribadi.

“PeduliLindungi harus sesuai dengan prinsip minimisasi data (data minimization), akuntabilitas (accountability), dan pembatasan durasi penyimpanan data (storage limitation),” tutur Alia.

Sementara Irene Poetranto menyoal efektivitas aplikasi tersebut dalam mencegah penyebaran COVID-19. Menurut Irene aplikasi tersebut tidak akan berlaku efektif tanpa disertai dengan tindakan lain.

Pelacakan dari hasil aplikasi contact tracing menurutnya memerlukan tindakan-tindakan berikutnya yang bersifat manual. Misalnya, melakukan testing, menelusuri mereka yang pernah kontak dengan Orang dalam Pengawasan (ODP) atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

“Apabila ODP atau PDP tersinyalir meninggalkan daerah karantina, apakah betul terjadi? atau mungkin telepon genggamnya tak sengaja dibawa orang lain? Ini dilakukan secara manual,” ujarnya.

Irene kemudian menggarisbawahi bahwa teknologi seperti contact tracing, blockchain, big data, dan buzzwords lainnya, sifatnya hanya membantu dan bukan menggantikan aksi nyata dan infrastruktur kesehatan publik yang ada.

Diskusi lengkap tentang tema ini dapat diikuti melalui Youtube Perkumpulan ELSAM.

Alia Yofira Karunian