Nyanyian Yang Dibungkam

IMG-20150813-WA000150 tahun peristiwa 1965 berlalu, suara Korban Terus bergema. Tuntutan akan pengakuan dan keadilan bagi korban terus berlanjut. Akan tetapi, suara-suara ini terdengar semakin lirih.
Para korban yang selama ini gigih berjuang semakin menua, sebagian besar telah meninggal dunia. Sementara, lapisan generasi di bawahnya, belum sepenuhnya lepas dari kungkungan narasi tunggal Orde Baru yang selama 50 tahun mendekam dalam benak mereka. Sisa-sisa ketakutan untuk membicarakan sejarah kelabu bangsanya sendiri, merupakan kesuksesan terbesar OrdeBaru yang masih lekat hingga kini.

Namun, ada sebagian kelompok anak muda yang mencoba bergerak keluar dari kungkungan pemalsuan sejarah dan narasi tunggal Ordebaru. Mereka merekam keresahan bangsanya, bergerak, berkarya dan berekspresi dengan caranya sendiri. Jerink, motor dari kelompok musik Superman Is Dead, bersama rekan-rekan musisi lainnya memproduksi album berjudu l Prisons Songs, yang merupakan lagu-lagukarya para tahanan politik 1965. Jerink dan kawan-kawan ini merupakan musisi yang cukup banyak memiliki pengikut. Keberanian mereka menolak ketabuan berbicara mengenai sejarah bangsanya, diharapkan menjadi magnet yang bisa mengajak anak-anak muda lain untuk berani mengungkap kebenaran.

Anakmuda, adalah pemegang kunci sejarah bangsa ini. Pada merekalah masa depan bangsa, dengan cita-cita keadilan ini diabdikan. Mereka yang kedepan diharapkan menjadi pelanjut angkatan untuk pengungkapan kebenaran.

Dialita adalah kelompok Paduan Suara yang beranggotakan para penyintas 1965. Mereka kerap berpentas menyanyikan lagu-lagu milik mereka sendiri yang mereka ciptakan semasa dalam tahanan Dalam kesempatani ini mereka akan menyanyikan empat buah lagu.

Fajar Merah adalah anak Wiji Tukul korban penghilangan paksa asal Solo, Fajar Merah berkarya dalam dunia musik dan telah memproduksi album. Biasanya Fajar Merah menyanyikan puisi bapaknya seperti “Bunga dan Tembok”. Melalui Musik Fajar berjuang untuk menuntut keadilan.

‘Nyanyian Yang Dibungkam’

Pagelaran Nyanyian Penyintas & Pengumuman Lomba Re(i)novasi Memori

Goethe Haus, Jl Sam Ratulangi 15, Jakarta Pusat

Jum’at, 21 Agustus 2015

Pukul 16.30 – selesai