Nyadran di Jembatan Bacem: Mengenang Peristiwa 1965 dan Melawan Lupa

Minggu, 27 Oktober 2013

ELSAM, Solo – Melawan lupa terhadap praktik kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia masa lalu menjadi penting untuk dilakukan agar praktik tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah pembelajaran dan mencegah terjadinya kembali praktik-praktik yang serupa di kemudian hari. Berbagai cara bisa dilakukan untuk melawan lupa praktik pelanggaran HAM masa lalu, mulai dari pemutaran film tentang kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, diskusi, musik, tulisan artikel mengenai kasus-kasus tersebut, mengajak kelompok anak muda untuk terlibat dalam kampanye tersebut atau yang lainnya.

Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) Solo memiliki cara sendiri untuk melakukan hal tersebut. Untuk mengenang pembantaian korban peristiwa 1965 di Solo, sejak tanggal 2 Oktober 2005, Pakorba Solo selalu mengadakan nyadran di jembatan Bacem. Dalam masyarakat Jawa, nyadran merupakan sebuah ritual penting untuk mendoakan arwah saudara-saudara mereka. Bagi Pakorba Solo, yang anggotanya kebanyakan adalah para korban dan keluarga peristiwa 1965, jembatan itu adalah tempat mereka berziarah, mengenang dan mendoakan saudara-saudara mereka yang hilang tak tahu rimbanya.

Jembatan Bacem ini dikenal cukup angker karena pada peristiwa 1965 jembatan Bacem ini kerap digunakan sebagai tempat eksekusi atau pembataian bagi orang-orang yang dituduh terlibat peristiwa 1965. Jembatan Bacem, yang dibawahnya mengalir sungai Bengawan Solo ini, terletak di perbatasan antara Solo dan Wonogiri. Namun jembatan Bacem yang asli hanya menyisakan fondasinya saja, karena saat ini telah dibangun jembatan yang lebih kokoh di sisinya.

Untuk kesekian kalinya, Pakorba Solo kembali menyelenggarakan nyadran pada tanggal 27 Oktober 2013 lalu di jembatan Bacem. Puluhan korban peristiwa 1965 beserta keluarga mereka datang ke jembatan Bacem sejak pukul 10.00 WIB. Ada yang menarik dari kegiatan nyadrankali ini. Hal ini dikarenakan pada saat itu Pakorba Solo memasang sebuah plakat di fondasi jembatan Bacem tersebut. Plakat tersebut bertuliskan, “Mengenang Tragedi 1865 di Jembatan Bacem.” Pemasangan plakat tersebut menjadi penting, bukan hanya bagi korban dan keluarga korban perisitiwa 1965, namun juga bagi sebuah upaya memorialisasi atau melawan lupa terhadap praktik pelanggaran HAM di Indonesia. Hal ini jelas diperuntukkan bukan hanya untuk korban dan keluarga korban saja, namun bagi seluruh rakyat Indonesia agar dapat belajar dari peristiwa tersebut serta mencegah terjadinya kembali peristiwa yang sama di kemudian hari.

Acara yang diadakan oleh Pakorba Solo pada hari itu dimulai dengan pengajian yang dihadiri sejumlah masyarakat setempat yang tinggal di sekitar jembatan Bacem. Masyarakat tersebut juga bergotong royong menyediakan kebutuhan konsumsi untuk pelaksanaan kegiatan tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga, dilakukan di sungai Bengawan Solo. Tabur bunga ini bukan hanya dilakukan oleh korban-korban peristiwa 1965 yang ingin berziarah untuk mengenang kawan-kawannya atau saudara-saudaranya saja. Beberapa anak korban dan cucu korban peristiwa 1965 juga menaburkan bunga di sungai Bengawan Solo tersebut. Hal ini tentu saja sangat penting untuk memberikan kesadaran anak dan cucu korban untuk memahami apa yang pernah dialami oleh keluarganya di peristiwa 1965 dan turut serta memperjuangkan hak-hak korban pelanggaran HAM di Indonesia. Acara yang berakhir sekitar pukul 14.00 WIB tersebut ditutup dengan makan bersama serta pengumpulan iuran bagi seluruh anggota Pakorba Solo. (AY)