Negara harus Menjamin Hak Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi di Dunia Maya

ELSAM, Banjarmasin—“Kebebasan berpendapat dan berekspresi sangatlah penting karena dengan kebebasan tersebut kita akan mendapatkan kebenaran dari hasil berdialog dan berdiskusi, akan dapat mengembangkan diri (self-fulfillment), dan merupakan manifestasi partisipasi masyarakat yang demokratis,” kata Mirza Satria Buana, Dosen HAM pada Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, pada diskusi yang diselenggarakan oleh ELSAM dan BEM Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat,  Senin (12/10) lalu.

Dalam diskusi bertajuk “Hak Kebebasan Berekspresi dan Berpendapat dalam Pelindungan Data Pribadi di Era Digital” itu Mirza mengatakan perlindungan negara tehadap kebebasan berpendapat dan berekspresi tidak terbatas pada ranah luring tapi juga juga di ruang maya.

Sayangnya, saat ini kriminalisasi terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi di internet kerap terjadi. Kriminalisasi umumnya menggunakan pasal pencemaran nama baik dalam UU ITE. Demikian dikatakan Peneliti ELSAM, Shevierra Danmadiyah dalam forum yang sama.

“Kasus kriminalisasi terhadap Pak Saiful Mahdi, seorang dosen Unsyiah, yang melakukan kritik terhadap kebijakan rekrutmen CPNS yang disampaikan melalui Grup WhatsApp merupakan refleksi bagi kita semua bahwa hak kebebasan berpendapat dan berekspresi tidak lagi aman,” kata Shevie.

Hak kebebasan berpendapat dan berekspresi, lanjut Shevie, bersinggungan erat dengan hak atas privasi. Hal ini tampak dari kasus peretasan yang dialami mahasiswa dan narasumber dalam diskusi mengenai Papua oleh Pers Mahasiswa Universitas Lampung beberapa waktu lalu. Kejadian tersebut menurutnya tidak hanya memberangus hak kebebasan berpendapat dan berekspresi tetapi juga hak atas privasi.

Catatan: Diskusi selengkapnya dapat diakses melalui kanal Youtube Perkumpulan ELSAM https://youtu.be/zNNhYneoXeE

Shevierra Danmadiyah