Menuju Yogya yang Semakin Ramah Lansia

ELSAM, Yogyakarta— Pemenuhan hak kelompok lanjut usia (Lansia) tidak cukup dengan pengesahan peraturan kesejahteraan. Keberadaan aturan harus diikuti dengan seperangkat instrumen kerja yang dapat mengindikasikan kualitas capaian dan tingkat keberhasilan pelaksanaan program kesejahteraan bagi Lansia.

Menyadari pentingnya tolok ukur keberhasilan program Lansia, Dinas Sosial Kota Yogyakarta bekerja sama dengan  Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) menggelar diskusi “Penyusunan Indikator dan Peta Jalan Kota Ramah Lansia di Kota Yogyakarta” di Kota Yogyakarta, Kamis (3/10/2019). Diskusi dihadiri oleh puluhan peserta yang berasal dari instansi pemerintah daerah, akademisi, komunitas Lansia, dan organisasi masyarakat sipil.

Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, mengapresiasi diskusi yang mempertemukan antarpemangku kepentingan tersebut. Haryadi mengatakan penyusunan indikator program kesejahtaraan Lansia merupakan langkah penting melihat capaian dari pelaksanaan peraturan daerah Nomor 38 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Lanjut Usia yang telah disahkan sebelumnya.

Pada kesempatan yang sama, Agus Sudrajat, Kepala Dinas Sosial Kota Yogyakarta, menyampaikan tentang rencana Pemkot Yogyakarta membentuk ruang aspirasi bagi kelompok Lansia.

“Kami ingin memastikan proses pembangunan kota mengakomodasi kebutuhan kelompok Lansia,” kata Agus.

Kota Yogyakarta kata Agus tengah giat-giatnya menggalakkan Gerakan Sayang Lansia atau Gersala yang berbasis pada filosofi Jawa mikul dhuwor mendhem jero. Dalam konteks kesejahteraan Lansia filosofi itu berarti menjunjung tinggi harkat dan martabat orangtua.

Gerakan ini mencoba melibatkan seluruh kelompok masyarakat termasuk perguruan tinggi, komunitas Lansia, hingga keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan dan membangun kemandirian kelompok Lansia.

Peneliti SurveyMeter Endra Dwi Mulyanto dalam paparannya mengatakan, dari sejumlah indikator Kota Ramah Lansia yang ditetapkan lembaganya, perhatian Kota Yogyakarta terhadap kelompok Lansia lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa kota lainnya.

“Dibandingkan dengan 14 kota yang kami teliti, Kota Yogyakarta lebih baik dalam hal penataan gedung dan ruang terbuka, partisipasi sosial, penghormatan dan inklusi sosial, dan dukungan masyarakat serta pelayanan kesehatan,” ungkapnya.

Indikator-indikator tersebut kata Endra diadopsi dari kriteria Kota Ramah Lansia sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ada 73 indikator yang mencerminkan delapan dimensi Kota Ramah Lansia yang telah ditetapkan oleh WHO.

Perwakilan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengusulkan agar penyusunan indikator memperhatikan standar pelayanan minimal yang telah ditetapkan dan dijalankan oleh instansi. Pelaksanaan Perwali 38/2019 menurutnya tidak butuh terlalu banyak indikator, meski harus tetap mencerminkan permasalahan yang dihadapi oleh semua pihak.

Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak mengusulkan agar indikator yang disusun mencakup kriteria khusus bagi kelompok Lansia, kriteria yang berbeda dengan yang ditetapkan dalam penanganan terhadap kelompok-kelompok difabel dan anak.

Hal lain yang menjadi perhatian di dalam diskusi adalah bagaimana mengukur tingkat partisipasi dan aktualisasi kelompok Lansia di masyarakat. Sementara perwakilan dari organisasi masyarakat sipil Fopperham mengusulkan gerakan dapat diperluas hingga ke tingkat kelurahan dengan melibatkan para pemuda di tiap-tiap kelurahan tersebut.

Miftah Fdhli