Mengenal Kekerasan Berbasis Gender Online

ELSAM, Jakarta—Kekerasan berbasis gender semakin meningkat seiring peningkatan dalam penggunaan teknologi digital. Berbagai bentuk kekerasan berbasis geder online (KBGO) pun terjadi.

Kekerasan berbasis gender merupakan kekerasan yang diarahkan terhadap seseorang berdasarkan identitas gender mereka. Kekerasan ini dapat dialami oleh semua orang, semua identitas gender.

Meski demikian, di dalam masyarakat yang umumnya masih menganggap laki-laki lebih superior dibanding identitas gender lain, kekerasan berbasis gender akan lebih banyak dialami oleh kelompok di luar laki-laki.

Mindset partriarki di masyarakat dan ketimpangan relasi kuasa, maka kerentanannya jauh lebih tinggi pada perempuan dan yang berindentitas non-binary,” kata Ellen Kusuma, Ketua Sub-Divisi Digital Risks SAFEnet, pada diskusi publik yang gelar ELSAM dan Pers Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (SUMA UI), Jumat (26/3/2021).

Ellen menambahkan, kekerasan berbasis gender memiliki ciri khusus, yakni menyerang privasi dan tubuh seseorang. Contohnya antara lain body shaming, pemerkosaan, dan objektifikasi seksual. Perkembagan teknologi digital membuat kekerasan berbasis gender semakin meningkat.

“Frekuensi serangannya bisa luar biasa sekali. Modus-modus yang digunakan pelaku bisa macem-macem, tindakannya juga bisa macem-macem, kurun waktunya (bisa berulang dan bisa tidak beruntun). Saya (misalnya) bisa menyerang sekarang, terus saya diem gitu yah, terus saya bisa serang lagi tahun depan,” tambah Ellen.

Dalam kesempatan yang sama Peneliti ELSAM, Lintang Setianti, mengatakan KBGO tidak dapat dilepaskan dari adanya relasi kuasa yang timpang antara korban dan pelaku.

“Perempuan dan teman-teman transgender, punya potensi atau kerentanan yang lebih mengalami KBGO,” kata Lintang.

Pengakuan bahwa perempuan memiliki hak atas privasinya sendiri kata Lintang memiliki sejarah panjang. Mengutip laporan Privacy International, Lintang menuturkan bahwa Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang berkaitan dengan hak atas privasi, dalam beberapa translasinya menggunakan kata “men”. Hal ini menurutnya menunjukkan bahwa dari dulu perempuan dianggap tidak memiliki privasi.

“Saat ini perempuan diakui hak atas privasinya, tetapi data tubuh perempuan tetap paling rentan untuk dieksploitasi. Siklus hidup perempuan, mulai dari menstruasi hingga menopause, itu rentan,” ungkap Lintang.

Lintang Setianti

Diskusi lengkap tentang kekerasan berbasis gender online dapat diakses melalui YouTube Perkumpulan ELSAM