Mencetak Generasi Melek Sejarah

ELSAM, Jakarta – Selang 17 tahun reformasi, keran demokrasi memang telah terbuka, orang-orang relatif bebas mengemukakan pendapatnya di ruang publik. Namun kasus pelanggaran HAM masa lalu, sebagai bagian dari agenda demokrasi, masih jauh api dari panggang.

Menurut staf ELSAM Ester Rini Pratsnawati, diperlukan sinergi yang solid dari pelbagai kalangan untuk mendorong penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu. Sosialisasi dan kampanye mengenai pentingnya penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu, khususnya ke anak muda, menjadi penting.

“Anak muda disasar sebagai salah satu target kampanye supaya mereka menjadi generasi yang tak tercerabut dari akar sejarah,” katanya.

Kampanye yang baru-baru ini dilakukan ELSAM bekerja sama dengan para penyintas, dilangsungkan di SMA Santa Ursula BSD, Tangerang, Jawa Barat. Acara yang dihelat pada Kamis (4/6) diikuti siswa-siswi kelas X dan XI. Acara yang disusun ELSAM ini memang sengaja dikemas secara populis.

“Kami mengajak mereka menonton film dokumenter tentang kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, dilanjutkan diskusi dengan para penyintas. Tujuannya kurang lebih untuk memperkuat kapasitas HAM generasi muda, memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai praktik pelanggaran HAM, serta melibatkan mereka untuk mendorong dan memajukan HAM sebagai perspektif bangsa,” urainya.

Ada beberapa film yang diputar, antara lain “Shadow Play”, “Jembatan Bacem”, Batas Panggung”, “Tragedi Jakarta 1998”, “Senyap,” dan “Plantungan”. Film-film tersebut kurang lebih berisi memoria passionis dari para penyintas pelanggaran HAM masa lalu. Mulai dari penyintas peristiwa 1965, Penembakan Misterius, insiden Tanjung Priok, peristiwa Talangsari, Marsinah, Kedung Ombo, penghilangan orang secara paksa 1997/1998, penembakan Trisaksi, tragedi Mei 1998, peristiwa Semanggi I dan II, dan lainnya.

Film-film yang bercerita tentang peristiwa 1965 antara lain “Senyap” dan “Jembatan Bacem”. Film “Jembatan Bacem” produksi ELSAM, mengisahkan pengakuan dari para pelaku sejarah termasuk penyintas yang lolos dari tragedi pembantaian. Penamaan ‘Jembatan Bacem’ sendiri diambil dari ingatan kolektif warga dan legenda di mana sering terjadi pembantaian di jembatan yang menghubungkan Solo dan Wonogiri tersebut.

Dua film bercerita mengenai tragedi Mei 1998. Film pertama, “Batas Panggung” (2004) produksi KontraS-Off Stream besutan Lexy Rambadeta menceritakan kesenjangan dan perlawanan rakyat kepada pemerintahan Orde Baru. Film tersebut juga memuat kronologi penghilangan paksa terhadap 23 penduduk sipil, termasuk di antaranya aktivis pro demokrasi. Film kedua bertajuk “Tragedi Jakarta 1998” menghadirkan rekaman saksi mata yang mencekam dan menginspirasi dari beberapa bentrokan paling dramatis dalam sejarah gerakan mahasiswa.

Para penyintas yang juga turut diundang seperti Tedjo Bayu, Joko Ciptadi, Mujiati, Utati, Wanmayetti, Ruyati Darwin, serta Ucikhowati mengungkapkan kebahagiannya karena acara ini bisa terselenggara.

Utati mengaku senang menyaksikan antusiasme dari para siswa. “Mungkin beberapa dari mereka merasa bingung, karena apa yang mereka lihat saat ini berbeda dengan apa yang dipelajari sebelumnya. Namun saya senang dengan keinginan siswa untuk terus menggali informasi dan bertanya akan kejadian masa lalu yang saya alami,” ujarnya.

Para guru dan siswa berharap, kegiatan ini bisa terus berlangsung. Tujuannya agar siswa memiliki alternatif sumber sejarah baru, yang berangkat dari pengalaman pelaku sejarah.

 

Penulis: Purnama Ayu Rizky / Annisa Nurul Fadhillah