Memperkuat Pemahaman HAM dan Mensinergikan Kerja Advokasi di Sulawesi Tengah

ELSAM, Poso – Sebagai salah satu provinsi tujuan investasi utama di Indonesia, Sulawesi Tengah rentan terhadap pelanggaran HAM oleh korporasi.

Operasi korporasi yang tak ramah lingkungan berdampak buruk pada kehidupan masyarakat di sekitarnya. Hal ini seperti dialami warga di warga Kabupaten Morowali Utara. Mereka kesulitan mendapatkan air bersih akibat tercemar limbah yang berasal dari PT Central Omega Resources Industri (COR II). Mereka mendapati air tak layak konsumsi karena telah bercampur lumpur.

Hal ini yang biasanya menyebabkan terjadinya sengketa antara masyarakat dengan korporasi dan pemerintah setempat. Tak jarang perlawanan masyarakat akibat kerusakan lingkungan hidup direspons dengan tindak kekerasan atau bahkan kriminalisasi, seperti terjadi di beberapa daerah.

Pengawasan terhadap operasi perusahaan terkait lingkungan penting dilakukan pemerintah daerah. Namun yang juga tak kalah penting adalah peningkatan kapasitas para pembela HAM di isu lingkungan. Sehingga mereka dapat merespons dan mengadvokasi situasi yang terjadi di wilayah masing-masing secara optimal.

Untuk itu, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) bersama Non-Timber Forest Products Exchange Programme (NTFP-EP) Indonesia dan Yayasan Panorama Alam Lestari (YPAL) menggelar pelatihan dasar untuk pembela HAM di isu lingkungan pada tanggal  21-25 November 2018 lalu di Poso, Sulawesi Tengah.

Pelatihan diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai lembaga dan komunitas masyarakat yang terdampak di Sulawesi Tengah.

Difasilitasi Ari Yurino dari ELSAM, para peserta diajak untuk mengenali sejumlah instrumen pokok HAM untuk kepentingan advokasi serta cara mendokumentasikan pelanggaran HAM yang terjadi di wilayah masing-masing.

Tak hanya itu, para peserta juga diajak untuk mengenal analisa sederhana kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di wilayah masing-masing. Untuk itu, para peserta diajak untuk membahas konsep dasar HAM, pendokumentasian pelanggaran HAM, hingga strategi advokasinya.

Sementara itu, fasilitator Jusupta Tarigan dari NTFP-EP Indonesia memaparkan pentingnya metode Outcome Harvesting dalam menjalankan berbagai macam kegiatan di komunitas atau organisasi peserta pelatihan.

Melalui pelatihan tersebut para peserta diharapkan dapat bersinergi dalam melakukan kerja advokasi. Solidaritas antar-para pembela HAM atas lingkungan akan semakin memperkuat gerakan masyarakat di Sulawesi Tengah. Sehingga kerja untuk memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan menjaga serta melestarikan lingkungan dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Penulis: Ari Yurino