Membangun Kesadaran Generasi Muda Tentang Pentingnya Penyelesaian Pelanggaran HAM Masa Lalu

ELSAM, Jakarta – Di tengah kemandekan upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu oleh pemerintah, memberikan pemahaman mengenai pelanggaran HAM masa lalu ke masyarakat luas menjadi suatu langkah yang penting. Proses tersebut dapat dimaknai sebagai salah satu upaya untuk membangun desakan yang lebih kuat kepada pemerintah agar segera menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu bukanlah hanya untuk kepentingan korban dan keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu yang menuntut keadilan. Namun penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu menjadi penting bagi seluruh warga negara agar pelanggaran HAM yang serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari. Untuk mencegah siapapun, termasuk kita semua, menjadi korban jika pelanggaran HAM yang serupa terjadi kembali di kemudian hari.

Untuk itu, SMA Santa Ursula Bumi Serpong Damai (BSD) bekerja sama dengan ELSAM, menyelenggarakan Seminar HAM terkait peristiwa Mei 98 dan peristiwa 1965 pada tanggal 10-11 Desember 2015 di SMA Santa Ursula. Pembahasan kedua peristiwa pelanggaran HAM masa lalu dipilih oleh para pelajar SMA Santa Ursula BSD karena mereka juga mempelajarinya dalam buku pelajaran sekolah.

Kegiatan ini sendiri merupakan salah satu upaya untuk memberikan pengetahuan mengenai peristiwa pelanggaran HAM masa lalu kepada para pelajar SMA serta membangun kesadaran akan pentingnya penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Dalam seminar HAM selama dua hari tersebut, ELSAM dan SMA Santa Ursula BSD menghadirkan sejumlah tokoh pegiat HAM serta korban dan keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu untuk berbagi pengalaman kepada para pelajar SMA.

Dalam kegiatan selama dua hari tersebut, sejumlah narasumber memaparkan mengenai peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM masa lalu yang pernah terjadi di Indonesia. Hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seluruh narasumber mengingat para pelajar SMA yang menghadiri kegiatan tersebut lahir di akhir tahun 1990-an dan di awal tahun 2000. Apalagi tidak semua informasi mengenai peristiwa pelanggaran HAM masa lalu dapat mereka dapatkan di buku pelajaran sekolah.

Bertemu secara langsung dengan korban dan keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu tentunya menjadi pengalaman yang berarti bagi pelajar SMA Santa Ursula, khususnya untuk peristiwa 1965 dan peristiwa Mei 98. Para siswa pelajar tersebut tidak pernah membayangkan dapat bertemu secara langsung dengan korban dan keluarga korban kedua peristiwa pelanggaran HAM masa lalu tersebut serta berbagi pengalaman mengenai kedua peristiwa itu.

“Apa yang bapak/ibu korban harapkan dari kami terkait peristiwa pelanggaran HAM masa lalu?” tanya seorang siswa kelas XII kepada keluarga korban yang hadir dalam Seminar HAM di SMA Santa Ursula Bumi Serpong Damai pada Kamis (10/12).

Pertanyaan tersebut tentu saja tidak disangka oleh seluruh narasumber yang hadir dalam acara itu. Namun di sisi lain, pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa ada harapan besar dari para generasi muda untuk paham akan pentingnya penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu dan turut serta dalam memperjuangkan penuntasan pelanggaran HAM masa lalu, melalui berbagai bentuk dan kapasitasnya.[]

Penulis: Ari Yurino

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *