Melawan Pelupaan Publik: Panduan Diskusi dan Praktik Mendokumentasikan Kebenaran atas Kejahatan HAM Skala Besar Masa Lalu

201200_BUK_Melawan-Pelupaan-Publik_CFJudul: Melawan Pelupaan Publik: Panduan Diskusi dan Praktik Mendokumentasikan Kebenaran atas Kejahatan Hak Asasi Manusia Skala Besar di Masa Lalu
Editor: Sentot Setyasiswanto
Impresum: Jakarta, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), 2012

Pengantar Penerbit

Hampir lebih dari satu dekade pemerintahan belum juga menunjukan tanda-tanda akan menggelar upaya pengungkapan kebenaran atas kejahatan hak asasi manusia di masa lalu. Sebaliknya perlahan tapi pasti, penguluran waktu pengungkapan kebenaran ini pada akhirnya justru mendorong pelupaan publik atas kejahatan-kejahatan tersebut. Penyangkalan demi penyangkalan terus mengemuka dan semakin menguat, seperti halnya terlihat penyangkalan terhadap kejahatan kemanusiaan pada peristiwa 65, orang hilang, kerusuhan Mei serta kasus penembakan mahasiswa di Trisakti dan Semanggi pada 1998 dan 1999 silam, dalam bentuk penolakan Kejaksaan Agung untuk menindalanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM.

Berbagai inisiatif politik dan hukum pun telah digagas oleh pegiat hak asasi manusia dan organisasi korban, tetapi tetap saja belum mampu meyakinkan negara tentang pentingnya menyelesaikan tindak pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu . Hampir lebih dari sepuluh tahun terakhir para pegiat hak asasi manusia dan perwakilan korban tak bosan-bosan mendatangi DPR RI guna meminta dukungan politik untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. Dan tak bosan-bosan pula, hampir satu dekade, kelompok ini terus melakukan lobby politik di jajaran pejabat negara tentang pentingnya agenda pengungkapan kebenaran atas apa yang terjadi di masa lalu, termasuk menunjukkan pentingnya langkah tersebut bagi masa depan demokrasi, hak asasi manusia, dan pembangunan di masa mendatang.

Di tengah kebuntuan proses penyelesaian pelanggaran masa lalu di level formal, ada sejumlah inisiatif masyarakat sipil yang mencoba melakukan pengungkapan kebenaran secara mandiri dengan tujuan mendorong masyarakat untuk bisa memahami atas apa yang terjadi di masa lalu dan juga mengajak mereka untuk berdamai dengan masa lalu tersebut. Upaya-upaya ini pun beragam, tetapi hampir sebagian besar didominasi oleh inisiatif pendokumentasian yang diarahkan pada lahirnya publikasi buku sejarah lain atas satu peristiwa pelanggaran di masa lalu atau juga kertas kerja yang dapat dijadikan sebagai basis untuk melakukan rekonsiliasi di tingkat akar rumput. Beberapa upaya ini pun berhasil mengingatkan publik atas apa yang pernah terjadi di masa lalu: seperti menyangkal sejarah resmi negara dan atau menjadi dasar untuk melakukan rekonsiliasi di tingkat akar rumput.

Sayangnya inisiatif-inisiatif ini masih sangat terbatas pada wilayah-wilayah tertentu. Di daerah-daerah lain sudah terlihat inisiatif-inisiatif serupa namun masih minim, sementara kejahatan hak asasi manusia di masa lalu yang telah mewarisi berbagai persoalan ekonomi, sosial, budaya, dan politik, di banyak daerah dalam tataran tertentu menjadi penyebab ketegangan sosial yang kerap berujung pada kekerasan komunal.

Pada dasarnya buku ini merupakan kumpulan tulisan tentang bagaimana melakukan dokumentasi pelanggaran hak asasi manusia untuk tujuan melawan politik pelupaan yang didukung secara tidak resmi oleh negara. Kumpulan artikel dan tulisan ini mencoba memberikan inspirasi bagi masyarakat sipil di daerah untuk mulai melawan penyangkalan negara terhadap kejahatan hak asasi manusia di masa lalu melalui kerja-kerja pendokumentasian. Diawali dengan menjelaskan anatomi pelupaan kejahatan hak asasi manusia di masa lalu, buku ini selanjutnya mengajak pembacanya untuk memahami kompleksitas kejahatan masa lalu ini sehingga memahami bahwa penyelesaiannya tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan pada itikad baik para pejabat negara. Keterlibatan dalam kerja-kerja pendokumentasian menjadi inisiatif wajib agar jalan panjang pengungkapan kebenaran ini tidak menjadi jalan untuk mengajak publik melupakannya.

Akhir kata, ELSAM tidak hendak bermaksud mengatakan bahwa buku ini merupakan jalan keluar atas kebuntuan politik dan hukum penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. Tetapi setidaknya, melalui buku ini ELSAM hendak mengajak para masyarakat sipil di seluruh Indonesia bahwa sambil menunggu inisiatif pengungkapan kebenaran resmi negara, ada baiknya untuk kembali menghidupkan dan memperluas cakupan pihak yang terlibat dalam kerja-kerja pendokumentasian kejahatan hak asasi manusia di masa lalu karena pelupaan publik atas apa yang pernah terjadi di masa lalu semakin terus menguat.

Untuk membaca buku ini, silakan klik unduh