Langkah-langkah Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Advokasi bagi Pembela HAM atas Lingkungan (Modul Pelatihan)

Konflik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di wilayah Indonesia kadang kala tidak bisa dilepaskan dari proses pembangunan industri-industri yang menopang perekonomian Indonesia. Pada satu sisi, pemerintah mendorong pembangunan dan pengembangan wilayah-wilayah industri untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Berbagai pengembangan wilayah industri baru dan memperkuat industri yang sudah berjalan untuk menunjang pemerataan dan menyerap tenaga kerja baru telah dilakukan oleh pemerintah. Namun di sisi lain, pengembangan wilayah-wilayah industri baru dan penguatan industri yang sudah berjalan tersebut kadang kala berbenturan dengan kepentingan masyarakat sekitar. Kebutuhan lahan yang luas dari industri-industri tersebut tentunya akan berdampak langsung dengan lahan masyarakat. Pada akhirnya memunculkan konflik dan pelanggaran hak asasi manusia, serta kerusakan lingkungan.

Situasi ini seharusya direspon oleh pemerintah dan korporasi dengan melakukan langkah-langkah antisipasi untuk mencegah atau menghentikan dampak-dampak potensial dan faktual dari pembangunan wilayah industri, baik terkait konflik, pelanggaran hak asasi manusia maupun kerusakan lingkungan. Termasuk di dalamnya menyediakan mekanisme pemulihan yang dapat digunakan untuk memulihkan atau memperbaiki dampak-dampak negatif yang muncul. Sehingga pemerintah dan korporasi dapat memenuhi tanggung jawabnya dalam mempromosikan dan menghormati hak asasi manusia secara optimal.

Para Pembela Hak Asasi Manusia, atau Pembela Lingkungan memiliki kerentanannya sendiri sebagai orang yang melakukan pembelaan terhadap Hak Asasi Manusia atau mempertahankan haknya. OHCHR (Komisioner Tinggi HAM PBB) menyebutkan bahwa: Istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang-orang yang secara individual atau dengan yang lain (berkelompok mempromosikan dan melindungi Hak Asasi Manusia). Pembela HAM dicirikan di atas semuanya apa yang mereka lakukan dan melalui deskripsi dari apa yang mereka lakukan dan beberapa konteks di mana mereka bekerja istilah tersebut bisa dijelaskan. Sehingga bisa dikatakan bahwa Pembela HAM adalah siapa pun yang melakukan pembelaan ataupun mempertahankan haknya, baik individu, kelompok maupun komunitas.

Maraknya ancaman maupun tindakan kekerasan secara langsung dan tidak langsung terhadap Pembela HAM atau Pembela Lingkungan ditambah minimnya perlindungan negara terhadapnya, menjadi alasan disusunnya modul “Langkah-langkah Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Advokasi bagi Pembela HAM atas Lingkungan”. Harapannya, modul ini dapat memberikan panduan bagi pekerja hak asasi manusia atas lingkungan dan/atau pendamping komunitas (community organizer) yang akan melakukan atau mengadakan pelatihan advokasi dan pembelaan lingkungan. Utamanya dalam menggunakan instrumen dan mekanisme hak asasi manusia yang tersedia dalam melakukan pembelaan dan advokasi hak-hak masyarakat. Sehingga, hasil yang diperoleh dari proses advokasi akan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat dan mampu memulihkan dampak dan kerugian yang dialami korban.

Ucapan terima kasih kepada tim ELSAM dan tim Peace Brigade International (PBI) yang telah bekerja keras dalam menjadikan modul ini sebagai bagian sumber daya pelatihan ELSAM, dengan dukungan dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) Netherlands. Secara khusus, kami juga mengucapkan terima kasih kepada mitra-mitra IUCN Netherlands yang terlibat dalam proses pelatihan di Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah dan Papua, seperti Sawit Watch, Yayasan Pionir, NTFP-EP, YPAL dan YADUPA.

Kami menyadari bahwa modul ini memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk proses perbaikan modul ini. Akhir kata, semoga modul ini bermanfaat bagi semua pihak yang memiliki keberpihakan pada pemajuan dan perlindungan Hak Asasi Manusia.

Untuk membaca lebih lanjut, klik unduh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *