Kriminalisasi Semakin Tinggi, ELSAM Bentuk Jaringan Akademisi untuk Kebebasan Berekspresi

Selasa, 30 Juni 2015

ELSAM, Padang – Walaupun perkembangan teknologi semakin canggih, namun ancaman kebebasan berekspresi, khususnya di ranah maya, juga semakin mengkhawatirkan. Sejak UU ITE disahkan pada tahun 2008 hingga tahun 2014, sudah ada 73 kasus yang muncul terkait UU tersebut. Sebagian besar korban ini terjerat pasal pencemaran nama baik dalam UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Menurut peneliti ELSAM Wahyudi Djaffar, kriminalisasi terhadap kebebasan berekspresi melalui UU ITE ini merupakan salah satu indikasi dari perkembangan teknologi yang semakin canggih dan tingginya pengguna internet tetapi tidak diiringi dengan kesadaran publik akan hak kebebasan berekspresi dan hak privasi.

Untuk itu, tambahnya, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) berinisiatif menggelar pertemuan jaringan akademisi terkait kebebasan berekspresi di Padang pada 29-30 Juni 2015. Pertemuan itu melibatkan sejumlah akademisi dari beberapa universitas di Indonesia, antara lain Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Andalas, Universitas Indonesia dan perwakilan dari Dewan Pers Indonesia.

“Jaringan akademisi ini dibentuk untuk mempromosikan kepada masyarakat mengenai kebebasan berekspresi dan hak privasi untuk menyeimbangi kemajuan teknologi yang semakin canggih,” kata Wahyudi.

Terkait dengan tantangan kebebasan berekspresi tersebut, Wahyudi menyatakan jaringan ini akan membentuk sejumlah aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai hak kebebasan berekspresi dan hak privasi.

“Sebagai langkah awal, aktivitas jaringan ini akan menyusun buku bunga rampai yang berisikan kajian akademis terkait isu kebebasan berekspresi yang kemudian akan dipublikasikan secara umum” ujarnya.

Adapun tema-tema yang terkait dalam penyusunan buku bunga rampai tersebut antara lain praktik surveillance dan unlawfull interception, perlindungan data pribadi, jaminan perlindungan dan pembatasan hak kebebasan berekspresi, peninjauan pencemaran nama baik dalam UU ITE, kebebasan pers dalam jaringan online, ujaran kebencian dan cyber security nasional Indonesia.

Selain penulisan buku bunga rampai, jaringan ini juga akan melakukan penyusunan standarisasi penyusunan bahan ajar perkuliahan mengenai kebebasan berekspresi dan hak atas privasi dan selanjutnya menyelenggarakan konferensi akademisi mengenai isu serupa.

Sejumlah akademis yang menghadiri pertemuan tersebut menyambut baik inisiasi ELSAM dalam membangun jaringan akademisi terkait kebebasan berekspresi tersebut.

“Hal ini merupakan bentuk pengajaran dan pengabdian masyarakat, termasuk kesiapan menjadi ahli dalam pengambilan kebijakan dan juga advokasi penanganan kasus. Sesuai dengan mandat Tri Dharma Perguruan Tinggi” ujar Heribertus Jaka Triyana, dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang menjadi salah satu anggota jaringan tersebut.[]

Penulis: Lintang Setianti

Editor: Ari Yurino