Ketimpangan Gender, Akar Diskriminasi Perempuan di Dunia Kerja

ELSAM, Jakarta—ELSAM meluncurkan hasil penelitian tentang perempuan dan anak di dunia kerja. Peluncuran buku berjudul “Perspektif Gender dan Hak Anak Dalam Bisnis Dan Hak Asasi Manusia: Perempuan Dan Anak Di Bawah Kuasa Korporasi di Indonesia” dikemas dengan acara talkshow di radio KBR, Senin (21/12) lalu.

Bincang-bincang diisi oleh tiga narasumber yaitu Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan, Atnike Nova Sigiro; Head of Corporate Social Responsibility PT Dharma Satya Nusantara, Ditto Santoso; dan Vita R. Yudhani Program Officer Bisnis dan HAM ELSAM sekaligus bagian dari tim editor buku penelitian tersebut.

Vita mengatakan, penelitian tersebut dilatabelakangi dari kerentatan yang dialami perempuan dan anak di banyak sektor usaha.

“Perempuan dan anak perlu dilindungi, mereka masuk kategori kelompok rentan. Kami berharap buku ini dapat menjadi rujukan bagi semua pemangku kepentingan dari lintas sektor, untuk melihat bahwa masih ada perempuan dan anak yang terluka dalam operasional bisnis,” jelas Vita.

Proses penelitan sendiri menurut Vita dimulai pertengahan 2019 dan melibatkan sejumlah peneliti dari berbagai kampus. Sementara bidang usaha yang diteliti meliputi pertanian, teknologi informasi, sumber daya alam, dan pariwisata.

Peminggiran dan diskriminasi terhadap perempuan di dunia kerja dipicu sejumlah faktor. Demikian ditekankan oleh Atnike.

“Akarnya adalah ketimpangan gender. Ini aspeknya ada banyak. Pertama, perempuan sering dipandang sebagai makhluk yang mempunyai kapasitas lebih rendah dibanding laki-laki. Perempuan dianggap pengetahuannya, skillnya itu lebih rendah,” ujar Atnike.

Penyebab ketimpangan gender berikutnya menurut Atnike adalah peran sosial yang dilekatkan terhadap perempuan. Perempuan seringkali diposisikan sebagai penanggung jawab untuk urusan-urusan domestik seperti pengasuhan.

Peran sosial perempuan yang dibentuk oleh masyarakat ini menurut Atnike berimplikasi terhadap peran perempuan di dunia kerja. Di dunia kerja perempuan tidak dapat mencapai kemampuan optimal yang dimilikinya akibat hambatan-hambatan yang berasal faktor sosial dan kebudayaan tersebut.

“Meskipun secara normatif perempuan memiliki kesempatan untuk berkiprah di dunia kerja, tetapi dia masih dilekatkan dengan peran pengasuhan, di mana timpangnya itu dikarenakan peran pengasuhan itu ada pada perempuan,” lanjut Atnike.

Isu ketimpangan gender di dunia kerja sudah menjadi perhatian pelaku usaha global. Demikian dikatakan Ditto Santoso. Penghormatan terhadap hak perempuan dan anak menurutnya merupakan bagian dari ide besar keberlanjutan perusahaan.

“Dalam perkembangan bisnis global saat ini perusahaan akan mendapat banyak dukungan, baik dari sisi konsumen, dari sisi investasi, apabila dia memiliki komitmen aksi-aksi yang mendukung pembangunan berkelanjutan,” jelas Ditto.

 

Putri Nidyaningsih 

Catatan: Diskusi peluncuran buku ini masih dapat diikuti di Youtube Berita KBR https://youtu.be/-jbBeJW2SrA