Kerusakan Lingkungan dan Pentingnya Menagih Tanggung Jawab Perusahaan

ELSAM, Bogor —Industri kelapa sawit telah banyak memberi kontribusi terhadap perekonomian nasional. Tapi kabar buruk di sektor ini juga tak kalah banyak. Advokasi perlu terus dilakukan sehingga kegiatan bisnis bisa berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap lingkungan dan hak asasi manusia (HAM).

Demikian kesimpulan umum dari pelatihan yang digelar ELSAM, Sawit Watch, dan Koalisi CleanBiofuelForAll di Bogor pada 28-30 Januari lalu.

Direktur Eksekutif ELSAM Wahyu Wagiman dalam sambutannya mengatakan, pelatihan dimaksudkan untuk mengenalkan kerangka kebijakan NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation) dalam advokasi di sektor sawit, terutama terkait hak-hak perburuhan.

Pelatihan dihadiri puluhan peserta dari kelompok masyarakat sipil yang bergerak di sektor perburuhan. Di antaranya PP KASBI, KSPN, Ukatan, KSPSI, FSPKU, dan SJBN.

Mantan komisioner Komnas HAM Ridha Saleh, salah satu pemateri dalam pelatihan tersebut, menjelaskan kaitan antara kerusakan lingkungan dan HAM.

Kerusakan lingkungan menurutnya disebabkan oleh sejumlah faktor yang saling terkait, yaitu ekspansi kapital, budaya konsumtif, dan eksploitasi sumber daya alam untuk mendukung budaya konsumtif tersebut.

Eksploitasi sumber daya alam oleh perusahaan berdampak terhadap hidup masyarakat, terutama masyarakat yang hidup di sekitar operasional perusahaan. Karena itu dia menekankan pentingnya meminta tanggung jawab perusahaan atas dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.

“Penting sekali meletakkan HAM tidak saja sebagai tanggungjawab negara (state centric) karena banyak sekali kerusakan lingkungan hidup dan eksploitasi sumber daya alam diakibatkan oleh non-negara seperti korporasi,” kata Ridha Saleh.

Lebih jauh Ridha menyinggung kejahatan terhadap lingkungan (ecocide), yaitu perusakan yang serius terhadap alam. Saat ini kejahatan terhadap lingkungan menurutnya sedang diusulkan menjadi bagian dari kejahatan terhadap perdamaian (crimes against peace).

Putri Nidaya Ningsih