Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti Harus Diputus Bebas, Demi Menjamin Kebebasan Berekspreasi dan Partisipasi Publik
Proses hukum terhadap Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanty, merupakan tindakan yang tidak proporsional, dan bentuk represi kebebasan berekspresi, melalui tindakan kriminalisasi terhadap ekspresi yang sah.

Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti Harus Diputus Bebas, Demi Menjamin Kebebasan Berekspreasi dan Partisipasi Publik

Jumat, 5 Jan 2024

ELSAM telah mengajukan keterangan tertulis dalam posisinya sebagai Amicus Curiae (Sahabat Pengadilan) kepada Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Partisipasi ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan oleh Majelis Hakim PN JakTim yang memeriksa dan mengadili perkara nomor 22/JKT.TIM/EKU/03/2023 dan 021/JKT.TIM/EKU/03/2023.

Dalam Amicus Curiae, disebutkan bahwa proses hukum terhadap Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanty, merupakan tindakan yang tidak proporsional, dan bentuk represi kebebasan berekspresi, melalui tindakan kriminalisasi terhadap ekspresi yang sah. Ancaman hukuman penjara untuk pencemaran nama baik adalah tidak diperlukan dalam suatu masyarakat demokratis, dan bertentangan dengan jaminan perlindungan kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Pandangan tersebut sejalan dengan Komentar Umum No. 34 Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR), yang menegaskan bahwa suatu UU yang mengatur tentang pembatasan kebebasan berekspresi tidak boleh melanggar ketentuan non-diskriminatif dari Kovenan (ICCPR), dan yang paling penting adalah UU tersebut tidak memberikan hukuman-hukuman yang tidak sesuai dengan Kovenan salah satunya adalah hukuman fisik.

Dikemukakan oleh Pelapor Khusus PBB untuk Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi (2011), pemberian hukuman penjara bagi orang yang mencari, menerima, dan menyebarkan informasi dan gagasan, sulit dibenarkan sebagai tindakan yang sesuai untuk mencapai salah tujuan yang sah menurut Pasal 19 ayat (3) ICCPR. Menyitir pendapat tersebut, menurut ELSAM penjatuhan pidana penjara terhadap suatu bentuk ekspresi, hanya akan menciptakan efek jeri (chilling effect) atau dampak ketakutan yang besar bagi kebebasan berpendapat dan berekspresi. Oleh karena itu, ELSAM mendorong Majelis Hakim PN Jakarta Timur untuk menolak seluruh tuntutan dari JPU dan membebaskan Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanty.

Hal tersebut adalah bagian dari upaya untuk melindungi pelaksanaan kebebasan berekspresi dan berpendapat, sebagai elemen esensial bagi keikutsertaan warga dalam kehidupan politik dan juga mendorong gagasan kritis dan perdebatan tentang kehidupan politik. Kebebasan ini merupakan prasyarat
bagi perwujudan prinsip transparansi dan akuntabilitas, yang pada akhirnya sangat penting bagi pemajuan dan perlindungan HAM, sekaligus memastikan berjalannya suatu pemerintahan yang demokratis.

Selengkapnya dalam:
Pers rilis
Amicus Curae

A R T I K E L T E R K A I T

Jumat, 5 Jan 2024
Proses hukum terhadap Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanty, merupakan tindakan yang tidak proporsional, dan bentuk represi kebebasan berekspresi, melalui tindakan kriminalisasi terhadap ekspresi yang sah.
+