GO-JEK Wajib Memberikan Pemulihan Terhadap Mitranya yang Menjadi  Korban Pemerkosaan

Siaran Pers ELSAM

GO-JEK Wajib Memberikan Pemulihan Terhadap Mitranya yang Menjadi  Korban Pemerkosaan

Seorang korban pemerkosaan melaporkan kejadiannya pada Selasa, 5 Maret 2019 di Polrestabes Bandung. Korban adalah mitra kerja sama Go-Life yang memberikan jasa pijat (Go-Massage). Pelaku pemerkosaan ini tidak lain adalah kliennya yang memesan jasa pijat melalui aplikasi Go-Life.[1] Go-Life sendiri merupakan sebuah aplikasi yang dikembangkan dibawah lisensi PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau yang lebih dikenal sebagai GO-JEK.

Saat ini, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan pencarian saksi-saksi, serta korban telah melakukan visum. Sebelumnya, ABK (28), penumpang Go-Car ternyata sedang hamil dua bulan ketika mengalami pelecehan seksual yang dilakukan Angrizal Noviandi (30), sopir taksi online, mitra dari Go-Car dari perusahaan yang sama GO-JEK tersebut. Kasus tersebut terjadi pada awal tahun 2018 dibawah penanganan Polda Metro Jaya.[2]

Penegakan hukum dan perlindungan terhadap korban merupakan hal yang mutlak dalam penanganan kasus. Kedua kasus tersebut harus dilanjutkan sesuai prosesnya sesuai hukum Pidana. Sementara korban perlu diberikan haknya sebagaimana dijamin melalui UU No. 31 tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Kepolisian dan Penegak Hukum yang lain harus menjamin proses ini berjalan imparsial dan mengedepankan perlindungan terhadap hak korban.

PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau GO-JEK selaku penyedia layanan yang digunakan oleh mitra dan konsumen juga tidak boleh tinggal diam. Kejadian di atas menunjukkan bahwa kejahatan asusila merupakan bukti dari lemahnya sistem pemantauan dan keamanan terhadap mitra kerja perusahaan serta lemahnya perlindungan terhadap pemakai layanan (konsumen). Sesuai dengan United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights (UNGPs) yang diadopsi Dewan HAM PBB pada Juni 2011, ada tiga pilar penting, yakni perlindungan (protect), penghormatan (respect), dan dan pemulihan (remedy). Dengan demikian, sesuai Pilar Penghormatan, para pelaku usaha wajib untuk menghormati Hak Asasi Manusia serta Pilar Pemulihan, yakni negara dan pelaku usaha wajib untuk memperluas akses bagi korban untuk mendapat pemulihan yang efektif, secara yudisial dan non yudisial.

Dengan demikian PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau GO-JEK wajib menghormati hak asasi manusia, khususnya hak perempuan dengan berperan aktif memberikan ruang aman bagi mitra dan konsumen untuk menjalankan aktivitas bisnis jasa pelayanan. PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau GO-JEK juga berkewajiban menjamin para korban, baik mitra atau konsumen, mendapatkan pemulihan yang layak.

Merespon kejadian ini, ELSAM merekomendasikan hal berikut ini:

  1. Mendesak Kepolisian dan seluruh penegak hukum menjamin proses pidana kasus ini dijalankan dengan imparsial dan mengedepankan perlindungan hak asasi manusia;
  2. Mendesak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memberikan perlindungan hak korban sepenuhnya tanpa terkecuali;
  3. Mendesak Pemerintah membuat sistem pemantauan terhadap perusahaan jasa berbasis teknologi yang memiliki tingkat kerawanan terhadap tindak kejahatan terhadap perempuan;
  4. Mendesak  PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau GO-JEK sebagai perusahaan membuat sistem standar keamanan operasional yang memberikan perlindungan kepada mitra dan pengguna aplikasi untuk mencegah pelanggaran hak terjadi kembali serta memastikan pendekatan hak asasi manusia terhilirisasi dalam operasi bisnisnya dalam rangka menghormati hak asasi manusia;
  5. Mendesak PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau GO-JEK memberikan pemulihan terhadap korban.

Jakarta, 12 Maret 2019

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)

 

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Andi Muttaqien (Deputi Advokasi), telepon: 08121996984, atau Sekar Banjaran Aji (Staf Advokasi Hukum ELSAM), telepon: 081287769880

 

1 https://tirto.id/kasus-pemerkosaan-mitra-gojek-bukti-lemahnya-sistem-go-massage-diYN diakses pada 12 Maret 2019
2 https://www.suara.com/news/2018/02/13/172157/perempuan-yang-dicabuli-sopir-gocar-sedang-hamil-2-bulan diakses pada 12 Maret 2019