ELSAM Terus Perkuat Jaringan Akademisi untuk Kebebasan Berekspresi

ELSAM, Yogyakarta – Menyikapi maraknya kasus-kasus berdimensi kebebasan berekspresi, khususnya seiring dengan masifnya penggunaan teknologi internet, yang saat ini menjadi salah satu medium utama dalam bertukar informasi, ELSAM telah menginisiasi pembentukan jaringan akademisi untuk kebebasan berekspresi di Indonesia. Sebagai awalan jaringan ini beranggotakan akademisi dari Universitas Andalas Padang, Universitas Indonesia Depok, Universitas Padjajaran Bandung, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Airlangga Surabaya, serta mengikutsertakan juga Dewan Pers.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembentukan jaringan ini diharapkan dapat membantu diseminasi pengetahuan kepada publik, untuk lebih memahami mengenai seluk-beluk cakupan perlindungan dan pembatasan kebebasan berekspresi. Dalam konteks advokasi, para akademikus ini diharapkan pula bisa secara aktif terlibat dalam advokasi kebijakan, maupun pembelaan kasus-kasus yang berlatarbelakang kebebasan bereskpresi. Sebagaimana dicatat ELSAM, dalam beberapa waktu terakhir, kasus-kasus kriminalisasi terhadap ekspresi yang sah, dengan cara pelaporan secara pidana terhadap pendapat seseorang, statistiknya terus mengalami kenaikan. Pada periode Januari-September 2015 saja ELSAM mencatat sedikitnya terdapat 22 pelaporan pidana atas ekspresi seseorang, dengan alasan pencemaran nama baik.

Ketidakjelasan rumusan Pasal 27 ayat (3) UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dengan ancaman hukuman lebih dari lima tahun penjara, memberikan peluang untuk memidanakan setiap orang karena pendapatnya. Generalisasi terhadap tindak pidana penghinaan dalam ketentuan ini, tanpa ada spesifikasi seperti halnya diatur di KUHP, telah melahirkan banyak masalah dalam penerapannya. Oleh karenanya penting memastikan adanya perubahan segera atas ketentuan pidana dalam UU ITE, guna menghindari efek jeri (chilling effect) dari banyaknya kasus-kasus kriminalisasi, terhadap penikmatan kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Kaitannya dengan kebutuhan tersebut, akademisi yang memiliki posisi strategis untuk mempengaruhi para pengambil kebijakan, diharapkan dapat menjadi pilar utama untuk memastikan adanya perubahan yang sejalan dengan perlindungan kebebasan berekspresi. Dengan berbagai argumentasi kebutuhan di atas, upaya pembangunan jaringan akademisi ini mendapatkan arti pentingnya. Mengabdi pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memberikan mandat pada para akademisi untuk melakukan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Sebagai upaya untuk memperkuat jaringan ini, ELSAM bersama para akademisi tengah melakukan riset literatur, guna menyusun buku bunga rampai mengenai kebasan berekspresi dan privasi. Buku ini nantinya berisi berbagai tulisan mengenai hukum, dinamika, dan tantangan terkini kebebasan berekspresi, termasuk rekomendasi kebijakannya yang selaras dengan hak asasi manusia. Dalam waktu dekat, pada Desember 2015, bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Airlangga, jaringan juga akan terlibat aktif dalam pertemuan akademis freedom and constitutionalism. Selain itu, dalam workshop yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 30 September-1 Oktober yang lalu, jaringan ini juga tengah mempersiapkan sebuah panduan pembelajaran, untuk menginkorporasikan materi mengenai kebebasan berekspresi dan privasi, ke dalam sejumlah mata kuliah di fakultas hukum. Inkorporasi materi ini diharapkan akan berdampak pada makin meluasnya pemahaman publik terhadap kebebasan berekspresi di Indonesia.[]

Penulis: Lintang Setianti
Editor: Wahyudi Djafar