Setelah Rapat Dengar Kesaksian, Apa yang akan Dilakukan KKR Aceh?

ELSAM, Jakarta – Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh sukses menggelar Rapat Dengar Kesaksian (RDK). Sebanyak 14 korban yang berasal dari lima kabupaten di Aceh telah memberi kesaksian atas apa yang mereka alami pada masa lalu. Lalu apa yang akan dilakukan KKR Aceh?

Berdasarkan rilis yang diterima ELSAM, pemberi kesaksian mengalami berbagai bentuk tindakan yang tak manusiawi. Di antara tindakan tersebut adalah mereka dipaksa mengaku terlibat dalam anggota kelompok bersenjata dan ditangkap serta ditahan secara tanpa prosedur.

Tak hanya itu, pemberi kesaksian juga ada yang disiksa dan dianiaya. Untuk korban perempuan tindakannya bahkan lebih jauh dari itu. Selain megalami penyiksaan dan penganiayaan mereka juga mengalami pelecehan seksual.

Samsidar, aktivis perempuan dan mantan Komisioner Komnas Perempuan, mengatakan tak mudah bagi korban perempuan untuk menyatakan apa yang mereka alami di masa lalu.

“Karena perempuan di masa konflik diposisikan sebagai objek seksualitas,” ujarnya, menanggapi kesaksian di rapat tersebut.

Perlakuan di luar batas kemanusiaan tersebut telah mengakibatkan korban dan keluarga mereka menanggung derita hingga hari ini.

Di antara korban ada yang mengalami trauma berkepanjangan, menderita luka fisik dan gangguan kesehatan yang parah, kehilangan usaha dan harta benda, hingga kesulitan ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan.

Dari dengar kesaksian tersebut KKR Aceh menegaskan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM di Aceh dan korban harus segera mendapat pemulihan. Sebagai tindak lanjut, KKR Aceh akan melakukan beberapa langkah berikut:

Pertama, meminta pada Pemerintah dan Pemerintah Aceh untuk segera memberikan Pemenuhan hak korban atas pemulihan secara mendesak dan segera;

Kedua, meminta informasi dan dokumen yang berkaitan dengan konflik Aceh kepada Pemerintahan baik di nasional maupun di Aceh;

Ketiga, melakukan kajian dan analisa yang komprehensif berdasarkan fakta-fakta Para Pemberi Kesaksian agar dapat diketahui pola dan motif dari pelanggaran HAM selama konflik Aceh berlangsung;

Keempat, menyusun rekomendasi reparasi/pemulihan yang komprehensif berdasarkan standar universal hak horban.

RDK digelar KKR Aceh pada 28 hingga 29 November lalu. Sebanyak empat belas korban atau saksi memberikan kesaksian. Mereka berasal dari lima kabupaten di Aceh, yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh  Utara,  Bener Meriah dan  Aceh  Selatan.

RDK itu sendiri merupakan salah satu mekanisme mengungkap kebenaran peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lalu.

Adapun tujuan dari RDK adalah mendidik publik untuk tahu peristiwa, penyebab, pola, dan dampak pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh dalam rentang 1976 hingga 2005. Selain itu, rapat juga dimaksudkan untuk memfasilitasi proses pemulihan sosial dan rehabilitasi korban.

Penulis: Sueb

Comments

share on:

Leave a Response