Melihat Perusahaan dalam Pertemuan antara Pendekatan Konflik dan Hak Asasi Manusia

ELSAM, Basel– Bertempat di Pharmaziemuseum, University of Basel, diadakan sebuah kelas khusus bertajuk Business, Conflict & Peacebuilding Course 2018. Kelas tersebut diadakan selama dua hari yakni 23–24 November 2018, oleh Swisspeace bekerjasama dengan Univesitas Basel.

Kelas ini ditujukan untuk para professional untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang praktik bisnis di daerah rawan konflik, serta untuk membantu perusahaan mengelola dan mengubah situasi konflik dengan lebih baik.

Peserta dalam kegiatan ini berjumlah 28 orang yang berasal dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika Selatan hingga Ethiophia. Latar belakang peserta beragam, mulai
aktivis, pengacara, pekerja korporasi, pegawai negeri sipil, akademisi hingga mediator yang sehari-hari telah bergelut dalam isu bisnis dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Salah satu peneliti ELSAM, Sekar Banjaran Aji terpilih mendapatkan beasiswa penuh untuk mengikuti pelatihan ini.

Pelatihan dipandu satu pertanyaan besar, apa yang dibutuhkan bagi bisnis untuk beroperasi secara bertanggung jawab di wilayah rawan konflik? Pelatihan mengeksplorasi pertanyaan ini dari berbagai sudut; mendiskusikan standar bisnis dan HAM PBB terkini dan bagaimana perusahaan menerapkan standar ini. Dengan kata lain, pelatihan menyoroti peran dan strategi perusahaan, pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat sipil dalam mempromosikan praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab di wilayah tersebut.

Guna menjawab pertanyaan tersebut, dihadirkan beberapa praktisi untuk langsung menjadi mentor. Rémy Friedmann dari FDFA yang menyampaikan prespektif Pemerintah Swiss tentang Bisnis dan HAM. Dari sisi akademisi ada Liz Umlas, P.Hd dari Universitas Fribourg. Sementara dari sisi bisnis ada Yann Wyss, senior manager dari Nestle Internasional.

Secara garis besar kelas ini memberikan pemahaman bahwa ada dua pendekatan yang berbeda dalam melihat konflik, membangun perdamaian serta Bisnis dan HAM. Kedua pendekatan tersebut harus digunakan dalam kasus yang melibatkan perusahaan dengan sensitivitas tinggi. Perpaduan teknik tersebut juga melibatkan “smart mix” antara hard law dan soft law.

Penulis : Sekar Banjaran Aji

Comments

share on:

Leave a Response