Global Academy Learning Program 2018 : Solidaritas Asia untuk Penghormatan HAM dalam Pembangunan Berkelanjutan

ELSAM, Bangkok — Salah satu perwakilan dari ELSAM berkesempatan untuk berpartisipasi dalam Training Global Academy Learning Program yang diselenggarakan oleh Forum Asia pada 28 Oktober hingga 3 November 2018, di Bangkok.

Pengembangan kapasitas ini ditujukan bagi para pejuang hak asasi manusia dari berbagai negara di Asia untuk menggali lebih dalam mengenai mekanisme advokasi hak asasi manusia (HAM), kampanye global dan isu pembangunan keberlanjutan.

Dipandu oleh Jerald Joseph, aktivis HAM dari Malaysia yang saat ini juga komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Malaysia (Suhakam), peserta diajak untuk mengidentifikasi persoalan HAM di Asia.

Dia menganggap persoalan HAM di Asia berakar pada perebutan sumber daya alam (natural resources), akibat masifnya pembangunan infrastruktur di beberapa negara yang didukung oleh aliran dana investasi negara-negara besar, khususnya Cina.

Pembangunan yang dijalankan di sejumlah negara kata dia banyak yang mengabaikan prinsip-prinsip HAM. Pengabaian mencakup hak kebebasan berekspresi dan hak ekonomi, sosial dan politik. Dalam hal ini negara juga menjadi pelaku pelanggaran HAM karena melakukan pembiaran.

Selanjutnya, peserta diajak untuk melakukan penyegaran kembali mengenai prinsip HAM dan mekanismenya di tingkat regional maupun internasional. Pada sesi ini peserta diminta merefleksikan pengalaman advokasi menggunakan mekanisme PBB, baik pengalaman kurang menyenangkan maupun pengalaman advokasi terbaik.

Sementara itu, Profesor Vitit Muntarbhorn, akademisi dari Universitas Chulalongkorn dan juga mantan anggota PBB terkait Syria dan mantan Pelapor Khusus PBB terkait perdagangan, prostitusi dan pornografi anak, mengisi sesi terkait korelasi HAM dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurutnya, pembangunan berkelanjutan yang sedang digadang-gadang tidak terpisahkan dengan prinsip-prinsip HAM. Bahkan dalam SDGs, poin-poin yang menjadi tujuan tersebut memiliki indikator yang sebenarnya menggunakan prinsip HAM.

Berkaitan dengan strategi advokasi dan kampanye hak asasi manusia, salah satu materi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah People-Centred Advocacy atau advokasi berpusat pada manusia (masyarakat).

Direktur eksekutif Forum Asia John Samuel mengatakan, konsep tersebut merupakan pendekatan baru dalam advokasi HAM. Adapun ciri advokasi dengan konsep ini adalah ‘keterlibatan masyarakat’.

Proses advokasi untuk perubahan dan implementasi kebijakan harus melibatkan publik. Dalam hal ini perspektif politik dalam menjalankan advokasi juga menjadi penting, yakni tidak hanya ‘mengadvokasi atas nama’ pihak yang termarjinalisasi, melainkan mampu memberdayakan kelompok marjinal untuk berbicara dan membela haknya.

Dalam konsep People-Centred Advocacy terdapat arena fokus yakni: masyarakat, publik, jaringan (aliansi), dan pengambil kebijakan.

Keempat arena tersebut beririsan dengan nilai personal masing-masing stake-holder, sehingga pada prosesnya dibutuhkan penguatan partisipasi, komunikasi dan legitimasi.

Selain itu, kerja advokasi juga harus berbasis pengetahuan. Di era informasi seperti sekarang, pendekatan yang menyentuh sisi emosional harus didukung dengan argumen rasional dan berbasis pengetahuan agar menghasilkan dampak.

Dalam pelatihan ini, setiap peserta diwajibkan untuk mempresentasikan studi kasus yang sedang diadvokasi atau pernah terlibat. ELSAM sendiri membagikan pengalaman terkait advokasi hak privasi khususnya mendorong pembahasan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi di Indonesia. Pelatihan dihadiri oleh 21 peserta yang berasal dari 15 negara.

Penulis : Lintang

Comments

share on:

Leave a Response