Konferensi Pembela Hutan 2018: Mendukung Pembela Lingkungan Garis Depan

ELSAM- Chiang Mai. Konferensi Pembela Hutan  atau Forest Defender Conference 2018 kembali digelar pada tahun 2018 di Chiang Mai di Thailand. Setelah setahun lalu diselenggarakan di Inggris sebagai bentuk respon atas data WITNESS Internasional yang menyebutkan bahwa setidaknya ada 207 pembela lingkungan dan tanah terbunuh di tahun 2017, konferensi ini diadakan kembali untuk mendukung pembela lingkungan di garis depan. Harapannya, tidak lain untuk memperkuat dan menumbuhkan jaringan pendukung pembela lingkungan melalui tukar pengalaman.

Dengan dukungan kolaborasi antara Not1More, Earth Rights International dan Cambodian Youth Network, konferensi ini bertujuan untuk memperkuat jaringan. Konferensi ini juga mengadakan pelatihan praktis terkait keamanan digital dan fisik, juga mengenalkan berbagai platform dan sumber daya yang membantu kerja-jerja pembela lingkungan di seluruh dunia. Selain itu terdapat penyusunan rencana strategis untuk memenuhi kebutuhan aktivis di garis paling depan.

Pelatihan ini sangat dibutuhkan bagi pembela lingkungan khususnya di Asia Tenggara. Contohnya di Kamboja, penindasan terhadap pembela lingkungan dan masyarkaat sipil semakin meningkat. Mulai dari pembatasan untuk berkumpul dan berasosiasi hingga membungkam ekspresi. Berbagai kriminalisasi juga mengancam dan mengintimidasi para pejuang lingkungan. Bahkan tidak sedikit yang berakibat pada penghilangan paksa dan kekerasan secara fisik. Meskipun demikian, organisasi lingkungan semakin tumbuh dan secara kolektif mulai membentuk perlawanan untuk memastikan hak atas hidup layak tetap terpenuhi.

Dalam Konferensi Pembela Hutan 2018, peneliti ELSAM, Sekar Banjaran Aji mempresentasikan hasil monitoring kondisi Pembela Lingkungan di Indonesia. Selama periode November 2017 sampai Juli 2018, ELSAM mencatat 36 kasus kekerasan dan ancaman kekerasan terhadap Pembela HAM atas Lingkungan  terjadi di Indonesia dengan jumlah tindakan sebanyak 55. Kasus dan tindakan kekerasan dan ancaman kekerasan tersebar di 15 provinsi, 24 Kabupaten dan 1 Kotamadya. Dalam rentang waktu 9 bulan, terdapat 254 korban kekerasan dan ancaman kekerasan yang menimpa Pembela HAM atas Lingkungan. 70% dari angka itu, yakni sebanyak 175 orang, adalah korban individu. Keluarga menjadi korban terbesar kedua. Sebanyak 71 (28%) keluarga kehilangan tempat tinggal dan terusir dari ruang hidupnya. Dari seluruh jumlah kasus dan tindakan tersebut, ELSAM menemukan bahwa luasan dampak, jumlah korban, dan ragam pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap Pembela HAM atas Lingkungan terjadi dalam jumlah yang signifikan. Laporan lengkapnya akan dirilis ELSAM pada akhir September 2018.

Comments

share on:

Leave a Response