Menyuarakan Isu LGBT dan HIV AIDS di Papua pada Forum EU Protect Defenders Meeting 2017

unknown

 Menyuarakan Isu LGBT dan HIV AIDS di Papua pada Forum EU Protect Defenders Meeting 2017

Jakarta/ 14 November 2017 – Tidak terpikir sebelumnya, setelah saya lulus seleksi peserta Kursus Dasar Pembela HAM Angkatan IV yang diselenggarakan oleh ELSAM dan PBI pada 2016 dan menyelesaikan riset lapangannya, akan membawa saya sampai ke beberapa negara di Uni Eropa. Berkumpul bersama para pembela HAM dari belahan dunia dalam forum EU Protect Defenders Meeting 2017 pada 6-10 November 2017.

Saya sangat bersyukur, terpilih oleh ELSAM dan PBI untuk mengikuti forum tersebut. Kesempatan dan peluang saya sebagai Pembela HAM yang melakukan pendampingan terhadap hak atas akses kesehatan kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) dan HIV AIDS (Human Immunodeficiency Virus infection and Acquired Immune Deficiency Syndrome) di Sorong Papua Barat, menjadi semakin luas. Khususnya dalam bertukar informasi dan kerja advokasi serta membuka jaringan international. Dalam forum EU Protect Defenders Meeting 2017 ini, para pembela HAM menyampaikan informasi situasi hak asasi manusia di belahan dunia, tidak hanya hak asasi kelompok LGBT, tetapi hak asasi manusia dalam banyak tematik. Sehingga walaupun kita sebagai pembela HAM memiliki fokus pada satu isu tematik HAM, misalnya seperti saya pada LGBT dan HIV AIDS, namun kita juga harus paham konsep dan prinsip, serta perkembangan hak asasi manusia secara umum. Karena hak dasar satu sama lain saling berkaitan. Instrumen, teori, dan praktek tentang itu telah saya dapatkan pada Kursus Dasar Pembela HAM di ELSAM.

Apa yang saya pelajari di ELSAM selama empat bulan, mendapat penyegaran dan diperdalam lagi di forum ini. Seperti tentang peran pembela HAM, bagaimana cara pendampingan dan membuka jaringan international, bagaimana melanjutkan suara korban dan komunitas kepada pihak negara. Misalnya saat forum di Belgia, secara khusus diberikan sharing tentang kiat-kiat sebagai pembela HAM dalam advokasi, meskipun pembela HAM sendiri dalam situasi mendapat tekanan atau represi.

Saya juga berkunjung ke Amnesty International, Hivos, dan Misereor. Misereor, sebuah Organisasi Waligereja Jerman yang telah puluhan tahun memerangi kemiskinan negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, tanpa melihat identitas agama, suku, dan gender, mengingatkan saya pada Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Papua. Seandainya saja GKI di Papua dapat bertindak seperti Misereor khususnya dalam menangani masalah orang dengan HIV AIDS (ODHA), mungkin beban para pendamping atau komunitas akan berkurang, dan berdampak baik pada korban. Di Sorong, Koalisi Penanggulangan Aids Indonesia (KPAI) telah berupaya melakukan kerja sinergi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Gereja-Gereja dalam menangani masalah HIV AIDS di Papua Barat. Salah satu yang diupayakan adalah adanya rumah singgah. Namun hingga kini itu belum terwujud. Kerjasama belum berjalan efektif. Salah satu hambatan utama adalah masih melekatnya fikiran bahwa HIV AIDS adalah penyakit kutukan.

Pendidikan dan penyuluhan merupakan cara efektif untuk meluruskan pandangan yang keliru itu. Dan itu harus digerakkan oleh semua pihak terkait yang fokus dan komitmen menangani masalah HIV AIDS, khususnya di Papua. Sebab, jika pandangan keliru, maka akan berdampak pada stigma dan perlakuan diskriminasi terhadap korban. Pada forum EU Protect Defenders yang saya ikuti, saya menemui persamaan situasi hak LGBT dan HIV AIDS di Indonesia dengan beberapa negara lain, misalnya Kenya, India, dan Myanmar. Di negara-negara itu, kelompok ini belum diakui oleh negara seperti warga negara perempuan atau laki-laki, sehingga soal pengakuan ini berdampak pada perlakuan yang intimidatif dan diskriminatif. Hak atas akses kesehatan, pendidikan, budaya, dan lainnya juga masih sulit bagi mereka.

10 bulan yang lalu, saat saya selesai mengikuti kelas dasar pembela HAM di ELSAM, saya memiliki beberapa impian jangka pendek untuk meningkatkan kapasitas komunitas yang saya gerakkan di Sorong Papua Barat. Yaitu dengan menyebarluaskan apa yang saya dapatkan di ELSAM. Tidak lama setelah itu, saya terpilih menjadi paralegal di KPAI Sorong. Posisi itu mendukung saya berbuat lebih banyak lagi. Sekarang, dengan tambahan pengalaman baru dari EU Protect Defenders Meeting, saya bermimpi untuk menjembatani jaringan lokal-nasional-international pada anggota komunitas. Saya berharap, ELSAM dan PBI akan memberikan kesempatan lebih luas pada komunitas-komunitas yang bergerak di Papua, yang langsung bersentuhan dengan masyarakat atau korban, untuk dapat mengikuti forum-forum seperti yang telah saya ikuti, khususnya Kursus Dasar Pembela HAM. Pada bidang yang saya dampingi, pada ujungnya semua bertujuan untuk mengurangi stigma dan diskriminasi pada LGBT dan ODHA. Pada konteks yang lebih luas, pada akhirnya semua bertujuan untuk penghormatan dan penegakkan hak asasi manusia.

Oleh: Sakura N A Laratmase (Alumni Kursus Dasar Pembela HAM Angkatan IV)

Editor: Adiani Viviana

Tentang EU Protect Defenders dabat dibaca di https://www.protectdefenders.eu/en/index.html

Tentang Kursus Dasar Pembela HAM oleh ELSAM dan PBI dabat dibaca di http://elsam.or.id/2017/11/profil-kursus-dasar-pembela-ham/

 

share on:

Leave a Response