Rabbani Harus Menghentikan Perundungan sebagai Strategi Penjualan serta Pengabaian Hak asasi Perempuan

rina

Siaran Pers ELSAM

Rabbani Harus Menghentikan Perundungan sebagai Strategi Penjualan serta Pengabaian Hak asasi Perempuan

Rabu (22/11) akun instagram sebuah produk hijab bernama Rabbani(@rabbaniprofesorkerudung)memposting sebuah foto yang menggemparkan. Dalam waktu enam jam saja ada 12ribu orang yang menyukai postingan tersebut. Sebuah foto bergambarkan seorang artis yang terkenal dengan nama panggung Rina Nose, dengan tulisan “teruntuk, sudariku Nurlina Permata Putri Ada KERUDUNG GRATIS buat kamu dari Rabbani.” Kemudian dalam foto tersebut ditulis dengan huruf kapital “PERINGATAN PEMERHATI KERUDUNG RABBANI DAPAT MENYEBABKAN KETAGIHAN BERIBADAH, BERKEADILAN SOSIAL BAGI MASYARAKAT, SERTA DAPAT MENJAUHI LARANGAN-NYA JUGA DISENANGI MASYARAKAT KARENA KETAATAN KEPADA-NYA”.

Rabbani merupakan perusahaan garment yang bergerak dalam bidang retail busana muslim dengan tagline Professor Kerudung Indonesia. Rabbani merupakan salah satu perusahaan kerudung instan pertama dan terbesar di Indonesia dengan mengeluarkan produk andalan berupa kerudung instan dan produk lain yang juga telah dikembangkan yaitu busana muslim diantaranya kemko, tunik, kastun, kemko,tunik serta perlengkapan lain seperti ciput/inner kerudung dan aksesoris. Dengan legal status sebagai CV. Rabbani Asysa (Rabbani), Rabbani kini memiliki 141 reSHARE atau cabang yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri. Kantor pusat Rabbani berlokasi di Jl. Citarum no 20 A Bandung, dengan nomor Telp. 022-7234254.

Foto yang diposting diakun yang digunakan untuk pemasaran jelas sengaja menggunakan kesempatan mencuri perhatian publik dengan memanfaatkan pilihan personal Rina Nose untuk berekspresi. Terlebih lagi caption postingan tersebut menggunakan ayat-ayat agama yang kemudian memojokan pilihan Rina kala membuka hijab. Akhirnya banyak sekali warganet yang terprovokasi lantas menghakimi Rina dengan memention langsung akun pribadi Rina. Tindakan ini merupakan tindakan perundungan yang tersistematis.

Lebih jauh, Rabbani juga berkontribusi terhadap tindak diskriminasi melalui aktivitasnya sendiri dengan mengembangkan strategi mengiklan produknya yang mendiskriminasi Rina Nose. Iklan produk yang bertujuan untuk menjual produk hijabnya melalui formulasi kalimat yang berisikan ujaran yang merundung seseorang karena keyakinannya. Tindakan ini merupakan manifestasi dari pelanggaran terhadap Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) yang meletakkan tanggung jawab entitas privat (korporasi) tuntuk tidak melakukan tindakan diskriminatif dalam segala tindakannya termasuk dalam strategi pemasarannya. Pasal 2 CEDAW telah menegaskan bahwa institusi bisnis atau perushaan harus mengambil langkah-tindak yang diperlukan untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan.

Tindakan yang dilakukan Rabbani ini juga tidak sesuai dengan pilar kedua Prinsip-Prinsip Panduan Panduan PBB mengenai Bisnis dan Hak Asasi Manusia (United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights) syang membebankan tanggung jawab bagi perusahaan untuk menghargai hak asasi manusia di setiap tindakan-tindakan bisnisnya. Tindakan yang dilakukan oleh Rabbani ini sama sekali tidak mencerminkan tindakan menghargai pada perempuan serta penghargaan pada seseorang manusia atas pilihan keyakinannya. Prinsip-prinsip Panduan ini juga berlaku untuk semua perusahaan, terlepas dari ukuran,sektor, konteks operasional, kepemilikan dan struktur, serta berlaku secara universal. Dengan demikian, Rabbani sebagai korporasi yang bergerak pada sektor garmen juga semestinya mematuhi panduan tersebut. Oleh karena, CEDAW juga telah menjadi bagian dari hukum Indonesia melalui UU No. UU RI No. 7 Tahun 1984, maka Rabbani harus mematuhi seluruh hukum yang berlaku ketika mereka menjalankan operasional bisnisnya.

Di samping itu, setiap terjadi pelanggaran hak asasi manusia, maka akan ada konsekuensi untuk memberikan pemulihan bagi korban pelanggaran tersebut. Prinsip-Prinsip Panduan telah menegaskan ketika korporasi telah menyebabkan atau berkontribusi pada dampak merugikan, mereka harus memberikan pemulihan melalui proses yang sah.

Merespon hal tersebut, untuk memastikan jaminan dalam pelaksanaan hak atas kebebasan berekspresi, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), menekankan beberapa hal berikut:

  1. Rabbani untuk menghapus postingan Instagram tersebut serta tidak menggunakan strategi marketing berkontribusi terhadap tindak diskriminasi melalui aktivitasnya sendiri dengan iklannya.
  2. Rabbani bertanggung jawab untuk memberikan pemulihan terhadap Rina Nose karena iklan produknya telah mendiskriminasi dan menyerang pilihan.
  3. Korporasi harus memperhitungan dampak potensi pelanggaran HAM seharus sebelum beriklan perusahaan melakukan penilaian apakah iklannya berkontribusi terhadap pelanggaran HAM teruntama jika hingga berpotensi mengundang kebencian.
  4. Pemerintah harus meningkatkan pengawasan terhadap seluruh korporasi untuk menjalankan praktik bisnis yang menghormati hak asasi manusia.

 

Jakarta, 24 November 2017

Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi Adzkar Ahsinin (Peneliti ELSAM): 085694103959, atau Sekar Banjaran Aji (Peneliti ELSAM), telepon: 081287769880, atau Lintang Setianti (Peneliti ELSAM), telepon: 085711624684.

share on:

Leave a Response