Peluncuran Buku dan Diskusi Publik

flyer-web

“Orang Muda Papua di Garis Depan Advokasi Hak Asasi Manusia yang Terus Berdinamika”

Di Balik Diskusi Publik Ini

Sejak Januari 2015 hingga saat ini, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) bersama dengan Peace Brigades International – Bina Perdamaian International (PBI) mengimplementasikan program penguatan kapasitas Pembela HAM yang bekerja di wilayah rentan konflik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan Kursus Dasar bagi Pembela HAM di Wilayah Rentan Konflik secara reguler.

Kursus yang diikuti oleh para pembela HAM muda tersebut memiliki tujuan utama untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pembela HAM dalam melakukan monitoring dan pendokumentasian pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di wilayah rentan konflik dengan menitikberatkan pada perspektif Hak Asasi Manusia dan memperhatikan faktor keamanan. ELSAM memberikan beasiswa melalui seleksi untuk mengikuti program pendidikan hak asasi manusia tersebut selama tujuh bulan. Empat bulan di Jakarta, dan tiga bulan riset lapangan di wilayah masing-masing peserta.

Hingga 2017 ini, ELSAM dan PBI telah menyelenggarakan lima kali kursus, dan telah memiliki 38 orang alumni (16P, 1W, 21L). Sebagian besar tersebar di wilayah Papua dan Papua Barat. Para alumni telah berhasil menyelesaikan pendokumentasian hasil riset lapangan dalam bentuk tulisan. Enam diantaranya sudah diterbitkan dalam buku dua bahasa, Indonesia-Inggris, dengan judul “Pembela HAM Menulis Seri I: Bunga Rampai Pendokumentasian Situasi HAM di Tanah Papua”.  Sementara, sekitar 25 naskah tulisan lainnya sedang dalam proses persiapan publikasi.

Tulisan-tulisan tersebut merupakan karya yang ditulis sendiri oleh para penulis, buah pikiran dan kerja lapangan mereka. Dimana riset dilakukan secara mandiri (tanpa tim lapangan).

Orang Muda, Pembela HAM, dan Situasi Hak Asasi Manusia yang Terus Berdinamika di Papua

Papua dipilih menjadi target utama sebaran wilayah oleh ELSAM, karena melihat fakta-fakta situasi pelanggaran HAM yang terus terjadi di Papua. Seperti hak kebebasan berekspresi, berserikat dan berkumpul, kasus-kasus kekerasan, penyiksaan, sengketa lahan, pelanggaran terhadap hak masyarakat adat, akses pendidikan, akses kesehatan, HIV, tingginya angka KDRT, kematian ibu hamil, hingga kasus-kasus berbasis LGBT, dan kasus lainnya.

Wilayah yang sangat luas, keterbatasan akses informasi, keterbatasan sarana dan prasarana, serta faktor keamanan, seringkali membuat upaya penyelesaian pelanggaran menjadi sangat lambat dan diabaikan. Tingkat pemahaman mengenai HAM, terutama di kalangan para aktivis muda  juga mengalami kesenjangan jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Penguatan kapasitas terutama yang terkait dengan hak asasi manusia serta yang terkait dengan kerja-kerja pendokumentasian pelanggaran HAM menjadi penting dilakukan, menjadi sebuah kebutuhan, sehingga akan membantu kerja-kerja advokasi di wilayah Papua.

Melihat situasi hak asasi manusia di Papua yang terus berdinamika, dan tidak terlepas dari gejolak politik yang terjadi itu, maka diperlukan pula sumber daya manusia yang tangguh untuk memonitoring atau mengawal situasi itu. Berdasarkan amatan ELSAM, komunitas dan gerakan orang muda Papua terus bertumbuh. Komunitas ini baik secara mandiri maupun bersinergi dengan lembaga-lembaga hak asasi manusia di Papua hingga international bergerak menjadi pendamping rakyat Papua dalam banyak bidang, Ekonomi-Sosial-Budaya-Sipil-Politik. Mereka adalah para pembela HAM.

Menurut Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Pembela HAM adalah siapa saja yang bekerja secara damai untuk mempromosikan hak asasi manusia. Meskipun siapa saja dapat menjadi pembela HAM, namun hambatan dan tantangan sangat besar. Sehingga diperlukan keberanian, komitmen, dan kapasitas yang besar pula. Pekerjaan para pembela HAM sangat penting untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian. Meskipun melalui Konstitusi dan ratifikasi sejumlah konvensi HAM negara berkomitmen untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi manusia, namun pada faktanya pelanggaran terus terjadi. Para pembela HAM muda sebagai aktor strategis perubahan juga masih dalam ancaman yang tinggi. Sehingga diperlukan strategi atau pendekatan yang tepat dalam melakukan kerja-kerja advokasi di tengah situasi itu.

Kerja-kerja pendokumentasian, menjadi penting dan perlu dilakukan secara masif. Bagaimana menghimpun data dan informasi atas sebuah peristiwa secara runut. Bagaimana pula menggunakan perangkat kebijakan hukum atau instrumen hak asasi manusia sebagai alatnya. Kerja pendokumentasian, diharapkan dapat menjadi tradisi kerja Pembela HAM dalam advokasinya. Juga menjadi alat perubahan kebijakan. Para pembela HAM muda harus memiliki kapasitas ini.

Diskusi ini menghadirkan lima orang narasumber panel. Mereka adalah Pembela HAM alumni pendidikan ELSAM yang telah menulis hasil pendokumentasian lapangan di Merauke, Jayapura, Sorong;

  1. Delince Gobay: “Perjuangan Mama-mama Pedagang Asli Papua dalam Mengupayakan Berdirinya Pasar Mama-mama Papua ditengah Otonomi Khusus”
  2. Simon Oriengel Sani: “Suku Moi Terancam Kehilangan Hutan, Tanah, dan Tempat Keramat”
  3. Mina Basik Basik: “Muting Dulu dan Kini: Sebuah Profil Kampung”
  4. Yason Ngelia: “Campur Tangan Militer dan Polisi dalam Kasus Sengketa Tanah pada Mega Industri Pertanian di Muting Merauke”
  5. Benny Mawel: “ KNPB: “Lawan!” NKRI

Diskusi juga menghadirkan Tim Penanggap: Pimpinan organisasi non pemerintah, akademisi, Komnas HAM Perwakilan Papua, serta narasumber kunci dari ELSAM

Hari/ Tanggal : Selasa/ 7 November 2017

Waktu : 09.00 Waktu Papua – 12. 30 (diakhiri makan siang)

Tempat : Susteran Maranatha Kota Jayapura

Selain itu kegiatan ini juga akan menyajikan pameran foto oleh komunitas Papuans Fhoto, dan pameran buku.

Penyelenggara Acara

ELSAM Jakarta, PBI, GempaR Papua, SKPKC Fransiskan Papua, ELSHAM Papua, Komunitas Papuans Photo, Tabloid JUBI, SKP Kame Merauke, BELANTARA, dan Akawoun Tambrauw, Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan Rimba Papua, Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil

share on:

Leave a Response