Global Conference Cyber Space 2017 : Momentum Mengimplementasi HAM Dalam Dunia Siber

df5mn8uuqaef4v1

ELSAM, Bangkok- Keamanan dunia maya telah menjadi salah satu subyek yang paling sering dibicarakan dalam berbagai pertemuan internasional dan memperoleh perhatian khusus dalam agenda pembuatan kebijakan internasional. Perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat dan kompleks memberikan implikasi penting tidak hanya terhadap akses komunikasi dan informasi melainkan juga dampaknya terhadap ekonomi, sosial, politik bahkan hukum. Oleh karena itu, standar-standar keamanan dunia maya—yang sangat tergantung pada pemanfaatan dan, dalam hampir semua hal, perkembangan teknologi digital—perlu diciptakan tanpa harus merongrong penikmatan hak asasi manusia di internet. Prinsip utama dalam keamanan dunia maya tetap harus dipegang teguh: confidentiality, integrity dan availability; yang pada muaranya bertujuan untuk menjaga keutuhan informasi (value of information) yang menjadi fundamen pemajuan dan penegakan hak asasi manusia.

Sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas masyarakat sipil tentang keamanan dunia maya, Global Partners Digital (GPD) dan the Centre for Communication Governance at National Law University, Delhi, berkolaborasi dengan Digital Empowerment Foundation, Digital Asia Hub, Open Net Korea, dan bersamaan dengan penyelenggaraan APrIGF Bangkok 2017 mengadakan Cybersecurity Workshop: Spotlight on GCCS 2017 pada 25 Juli 2017 sampai 27 Juli 2017 di Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand. Lokakarya ini bertujuan untuk melakukan identifikasi dan pemetaan masalah dan prioritas berkaitan dengan masalah keamanan dunia maya di regional Asia. Hasil akhir penelitian ini merupakan dokumen rekomendasi yang dibuat bersama-sama masyarakat sipil yang hadir dari beberapa negara yaitu Indonesia, India, Filipina, Thailand, Malaysia dan Hongkong untuk diusulkan pada penyelenggaraan Global Conference on Cyber Space (GCCS) yang akan diadakan akhir tahun 2017 di India.

GCCS pertama kali diadakan di London 2011, dan selama dua tahun diadakan secara berurutan di Budapest (2012) dan Seoul (2013). Ketiga forum tersebut, yang kemudian disebut sebagai London Process, menjadi tonggak penting masuknya isu keamanan dunia maya ke dalam agenda kebijakan internasional, terutama sekali menjadi acuan dalam agenda-agenda GCCS berikutnya. GCCS berikutnya akan diadakan pada 23-24 November 2017 di New Delhi, India, yang mengundang berbagai pihak lintas sektor mulai dari pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, sektor privat dan komunitas teknis.

Malavika Jayaram, Direktur Digital Asia Hub, yang sekaligus menjadi pembicara dalam lokakarya tersebut, mengatakan bahwa sejumlah problem keamanan dunia maya tengah dihadapi oleh negara-negara di Asia. Beberapa persolan yang dihadapi antara lain kapabilitas yang terkait dengan penggunaan teknologi dunia maya (cyber capability) seperti digital forensics, tidak adanya standar keamanan yang diaplikasikan, kerentanan perangkat telekomunikasi terhadap peretasan (hacking) maupun teknologi malware, masih terpinggirkannya peran kelompok peretas (hacking community) dalam diskusi keamanan dunia maya dan kecenderungan pemerintah-pemerintah di regional Asia untuk bersikap seolah-olah merasa disalahkan karena aktivitas advokasi kebijakan yang dilakukan oleh masyarakat sipil.

Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian dalam GCCS mendatang yaitu internet bagi pertumbuhan yang berkelanjutan (growth sustainability), internet yang inklusif (inclusion), keamanan (security) dan diplomasi di era digital. GPD termasuk berbagai organisasi internasional telah menyerukan bahwa keterlibatan multipihak harus menjadi landasan bagi dimulainya seluruh perbincangan dan negosiasi kebijakan keamanan di seluruh dunia.

Penulis : Miftah Fadhli

share on:

Leave a Response