Analisis Gender Sebagai Instrumen Terwujudnya Resolusi Konflik Kelapa Sawit

indri

ELSAM, Bogor – Seluruh proses produksi industri sawit potensial menimbulkan konflik mulai dari pembebasan tanah hingga pasca panen. Data Sawit Watch menunjukkan hingga tahun 2017 ekspansi perkebunan kelapa sawit sudah mencapai luas 16,19 juta hektar di seluruh Indonesia. Industri ini juga tidak hanya menyasar pulau-pulau besar, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua sebagai target ekspansi perkebunan, tetapi juga memperluas ekspansi di pulau-pulau kecil terluar di Indonesia. Ditengah massifnya ekspansi perkebunan kelapa sawit dibutuhkan penggunaan analisis gender untuk dipelajari dan diterapkan sebelum menentukan pilihan langkah advokasi demi terwujudnya resolusi konflik.

Analisis gender adalah suatu metode atau alat untuk mendeteksi kesenjangan atau disparitas gender melalui penyediaan data dan fakta serta informasi tentang gender yaitu data yang terpilah antara laki-laki dan perempuan dalam aspek akses, peran, kontrol dan manfaat. Dengan demikian analisis gender adalah proses menganalisa data dan informasi secara sistematis tentang laki-laki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan, fungsi, peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi.

“Dalam prakteknya masyarakat termarjinaliasasi berdasarkan kekuatan sosial, tingkat strata sosial, usia,jenis kelamin, penyandang disabilitas yang nantinya akan terpola dalam stratifikasi sosial,” ujar Indri Oktaviani dari Koalisi Perempuan Indonesia dalam sesi Advokasi Berbasis Hak Asasi Berbasis Hak Asasi Manusia Melalui Pendekatan Analisis Sosial dalam Pelatihan PULIH (Plantation Issue in Utilizing Local Communities to Integrate Human Rights) seri kedua bagi masyarakat lokal, buruh, petani dan perempuan pada 9-12 Mei 2017 di Bogor.

Syarat utama terlaksananya analisis gender adalah tersedianya data terpilah berdasarkan jenis kelamin. Data terpilah adalah nilai dari variabel variabel yang sudah terpilah antara laki-laki dan perempuan berdasarkan topik bahasan/hal-hal yang menjadi perhatian. Data terdiri atas data kuantitatif (nilai variabel yang terukur, biasanya berupa numerik) dan data kualitatif (nilai variabel yang tidak terukur dan sering disebut atribut, biasanya berupa informasi).

Salah satu caranya adalah diawali dengan membuat jam harian individu untuk memetakan beban ganda perempuan yang dialaminya sehari-hari. Selanjutnya untuk memetakan hak-hak masyarakat yang yang terlanggar tiap harinya. Jam harian tersebut kemudian menjadi bahan diskusi lebih lanjut untuk memetakan pola sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Misalnya buruh sawit perempuan yang susah menjadi buruh tetap. Buruh sawit perempuan juga diberi tanggung jawab pekerjaan khusus di bidang pembibitan dan pemupukan. Gajinya pun lebih sedikit dari buruh sawit laki-laki, bahkan sebagian besar tidak digaji karena dianggap membantu suami. Hal tersebut masih ditambah beban domestic rumah tangga dimana perempuan harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga mulai dari menyapu, memasak, mencuci piring dan lain-lain.

Sebagai penutup peserta melakukan permainan “lingkaran klaim” dimana tiap peserta harus memperebutkan wilayah khusus. Dari permainan tersebut peserta belajar mengenai hubungan antara ketersediaan sumber daya alam dan ketimpangan akses serta penikmatan atas sumber daya alam tersebut.

Penulis : Sekar Banjaran Aji

 

share on:

Leave a Response