Pelatihan PULIH (Plantation Issue In Utilizing Local Communities To Integrate Human Rights) Angkatan 2

fleyer-web-pulih

Meningkatnya permintaan minyak dan lemak nabati di dalam negeri maupun internasional menjadikan Indonesia sebagai pemimpin global perkebunan kelapa sawit, khususnya dalam hal luas perkebunan maupun produksi kelapa sawit. Kondisi ini membuat industri sawit memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Perkebunan kelapa sawit dipercaya dapat menjadi sarana dan langkah untuk meningkatkan peluang ekonomi masyarakat dan mengurangi kemiskinan, meningkatkan produk domestik bruto (PDB), meningkatkan pendapatan pekebun, dan penyerapan tenaga kerja. Namun, sebagian penelitian dan laporan yang dirilis lembaga-lembaga hak asasi manusia dan lingkungan menyebutkan dampak negatif yang terjadi akibat pembangunan perkebunan kelapa sawit yang tidak memerhatikan hak asasi manusia dan lingkungan. Perampasan tanah, konflik agraria, eksploitasi buruh dan kerusakan lingkungan merupakan dampak yang muncul akibat pembangunan perkebunan kelapa sawit. Masyarakat lokal, perempuan, petani, buruh dan anak-anak merupakan kelompok pertama yang terkena dampak pembangunan perkebunan kelapa sawit yang mengabaikan penghormatan hak asasi manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Oleh karenanya, Pemerintah harus memberikan perlindungan dan jaminan terhadap hak-hak masyarakat lokal, buruh, perempuan dan anak-anak dari dampak negatif pembangunan perkebunan kelapa sawit. Pemerintah harus mengawasi dan melakukan uji tuntas hak asasi manusia terhadap semua perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Prinsip-Prinsip Panduan PBB untuk Bisnis dan Hak Asasi Manusia (UN Guiding Principles on Business and Human Rights/UNGP) yang memandatkan kepada Negara dan perusahaan untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam mempromosikan dan menghormati HAM serta menyediakan akses pemulihan untuk korban pelanggaran HAM akibat operasi perusahaan.

Disamping itu, masyarakat lokal, petani, buruh, dan perempuan harus memiliki pemahaman dan kemampuan untuk melihat proses dan dampak pembangunan perkebunan kelapa sawit di wilayahnya masing-masing, serta antisipasi dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi atau memitigasi dampak-dampak yang mungkin akan terjadi akibat pembangunan perkebunan kelapa sawit.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) sebagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap isu hak asasi manusia, merespon penegakan hak asasi manusia dalam konteks relasi bisnis dan HAM khususnya isu perkebunan dengan memilih pendidikan dan pelatihan hak asasi manusia sebagai salah satu kegiatan utamanya. Salah satu upaya mendorong pemenuhan dan perlindungan hak asasi manusia adalah melalui peningkatan kapasitas hak asasi manusia bagi masyarakat lokal, buruh, petani dan kaum perempuan.

Untuk itu, ELSAM akan mengadakan serial Pelatihan bagi masyarakat lokal, buruh, petani dan kaum perempuan. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan penguatan kapasitas masyarakat lokal, buruh, petani dan kaum perempuan untuk melihat proses dan dampak pembangunan perkebunan kelapa sawit di wilayahnya masing-masing, dan apabila diperlukan, menggunakan mekanisme penyelesaian konflik yang tersedia dalam rangka menjamin hak atas pemulihan bagi korban terdampak pembangunan perkebunan kelapa sawit.

TUJUAN

Pelatihan ini bertujuan agar:

  1. Peserta memiliki pemahaman mengenai hak-hak warga Negara dalam kerangka Konstitusi dan Instrumen Hak Asasi Manusia;
  2. Peserta memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi persoalan perkebunan kelapa sawit di wilayahnya;
  3. Peserta mengenal instrumen hak asasi manusia beserta mekanisme yang tersedia dalam melakukan pembelaan dan penanganan konflik, termasuk pemulihan bagi korban operasional industri perkebunan;

KURIKULUM DAN METODE PELATIHAN

Selama pelatihan ini peserta akan mempelajari:

  1. Konsep Hak Asasi Manusia dan Hak-hak Warga Negara;
  2. Politik Agraria dan Konflik Perkebunan di Industri Perkebunan Kelapa Sawit;
  3. Analisis Sosial Isu Perkebunan;
  4. Resolusi Konflik berbasis Negara dan Non Negara;
  5. Mekanisme Advokasi Isu Perkebunan (RSPO).

Pelatihan dilaksanakan selama 4 (empat) hari. Pelatihan ini menggunakan metode pendidikan orang dewasa berbasis partisipatif aktif peserta dengan  komposisi materi (40%) serta diskusi dan simulasi (60%).

PESERTA

Peserta adalah masyarakat lokal, buruh, petani dan perempuan di seluruh Indonesia, dengan wilayah prioritas Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua Barat dan Papua. Setelah mengikuti program ini, peserta diharapkan dapat mengidentifikasi pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi, serta mengenal berbagai mekanisme penyelesaian sengketa dalam rangka menjamin hak atas pemulihan bagi korban. Peserta dalam pelatihan ini dibatasi maksimal 20 orang dengan mempertimbangkan perimbangan gender dan wilayah.

FASILITAS

ELSAM menyediakan akomodasi, bahan bacaan, akses internet, training kit dan sertifikat

BEASISWA

ELSAM menyediakan beasiswa bagi peserta yang lolos seleksi.

ALUR KEGIATAN

Pendaftaran                                                                           : 13 – 26 April 2017

Pengumuman                                                                        : 27 April 2017

Pelaksanaan Pelatihan                                                         : 9 – 12 Mei 2017

  • Mengisi Form Pendaftaran yang dapat diunduh di sini
  • Unduh Brosur

Seluruh persyaratan pendaftaran dikirim melalui email [email protected] atau dapat dikirim melalui pos/fax dengan alamat:

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
Jl. Siaga II No 31, Pejaten Barat, Pasar Minggu
Jakarta Selatan – 12510
Telp: 021-7972662, 79192564; Fax: 021-79192519

INFORMASI LENGKAP

Dapat menghubungi Sdri. Icha (0813 2802 2471) melalui email [email protected] atau [email protected] dan Sdri. Sekar (0812 8776 9880) melalui email [email protected]

 

share on:

Leave a Response