Forum Linggarjati: Mendorong Hasil Penelitian yang Berkualitas (Research Excellence) untuk Kebijakan

research-use-in-policy

ELSAM, Kuningan – Hasil-hasil penelitian, dalam banyak kasus, telah mampu memberi pengaruh terhadap proses pembentukan kebijakan. Indonesia merupakan salah satu negara di mana kerja-kerja penelitian masih memperoleh tempat di pinggiran kendati sumbangsihnya sangat besar bagi pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Selain itu, masalah mendasar terkait dengan kualitas hasil penelitian yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga riset masyarakat sipil masih menjadi alasan mengapa hasil penelitian sulit memperoleh perhatian dari Pemerintah. Tidak sebagaimana halnya dengan penelitian yang dihasilkan oleh kampus-kampus, hasil penelitian dari lembaga riset masyarakat sipil kesulitan menemukan standar kualitas dan hasil penelitian yang baik.

Hal itu setidaknya mengemuka dalam rapat 16 lembaga riset masyarakat sipil di Grage Hotel Sankan, Kuningan, Jawa Barat pada 8 sampai 9 September 2016. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh Knowledge Sector Initiative (KSI) dan dihadiri oleh Hans Antlöv (KSI) dan Sangkot Marzuki (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia). Dalam dua hari diskusi, peserta secara bersama-sama mengidentifikasi faktor apa sajakah yang mempengaruhi kualitas penelitian masyarakat sipil, jika diasumsikan memiliki sejumlah perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh kampus. Integritas dan validitas data, akses terhadap hasil penelitian, komponen etik serta metodologi menjadi beberapa pertimbangan untuk menentukan baik tidaknya sebuah penelitian.

“Penelitian yang dilakukan masyarakat sipil berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh universitas karena mencoba untuk menjelaskan hal-hal rumit secara sederhana sehingga dapat dipahami oleh pengambil kebijakan,” terang Hans dalam presentasinya.

Seolah menegaskan kesepakatan para peserta, Hans lebih lanjut mengemukakan bahwa akseptibilitas pengambil kebijakan terhadap hasil penelitian menjadi faktor penting dari research excellent.

Dalam diskusi tersebut hal yang juga mengemuka adalah tantangan yang dihadapi oleh lembaga masyarakat sipil dalam menghasilkan research excellent. Pendanaan, kapasitas sumber daya manusia, manajemen organisasi penelitian dan standar etika penelitian dianggap sebagai beberapa hal yang dapat menghambat namun juga menjadi peluang dalam mengembangkan mutu hasil penelitian.

“Hal yang kerapkali dikesampingkan dalam penelitian adalah penilaian terhadap standar etika penelitian,” ungkap Riaty Raffiudan dari Puskapol UU. “Selama ini kita belum memiliki standar etika yang jelas untuk dirujuk secara nasional oleh para peneliti, meskipun sebenarnya LIPI sudah memilikinya,” tambahnya

Diskusi Linggarjati tersebut diharapkan akan menjadi awal dari proses konsolidasi kelompok peneliti dari berbagai lembaga masyarakat sipil di Indonesia untuk memulai mengembangkan penelitian kebijakan yang bermutu. Sejumlah agenda akan segera dilakukan sebagai tindak-lanjut dari diskusi tersebut.

Penulis: Miftah Fadhli

Tags:
share on:

Leave a Response