Pentingnya Jaringan Kerja Efektif Dalam Merawat Toleransi Beragama dan Berkeyakinan

religious-freedom

ELSAM Jakarta – The Wahid Foundation menerima kunjungan peserta Kursus Dasar Pembela HAM dalam audiensi tentang jaringan kerja Jakarta-Papua khususnya dalam advokasi kebebasan beragama atau berkeyakinan. Diskusi terbatas itu dilakukan di Sekretariat The Wahid Foundation, yang berada di Jalan Taman Amir Hamzah No.8, Menteng, Jakarta pada Kamis, 18 Agustus 2016.

Hingga kini, Negara Kesatuan Republik Indonesi hanya mengakui 6 agama saja, yakni; Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Konghucu, dan Budha. Meskipun sesungguhnya masih banyak agama atau keyakinan yang hidup dan berkembang di Indonesia. Sehingga kita harus membagi pengalaman dan lebih mendalami pemahaman atas agama yang kita yakini, agar dapat mengaplikasikan nilai-nilai ajaran agama dengan baik dan benar.

Alamsyah M Djaffar dari The Wahid Foundation mengatakan, bahwa membangun jaringan kerja ini juga untuk memberikan pemahaman, tentang makna kebebasan beragama. Lanjut Alam, sesuai informasi yang didapati, potensi konfilk secara terstruktur di dalam dunia birokrasi dalam konteks ini sangat kental terjadi. Belum lagi saat berbenturan dengan pihak aparat -TNI dan Polri-. Sehingga sulit menemukan titik permasalahan. Tetapi “Kita mencoba memecahkan secara damai di antara pihak agama, masyarakat, pemerintah dan TNI-POLRI” ujarnya.

“Kita saling bahu-membahu dan jangan pantang menyerah karena kita adalah pembela hak asasi manusia dan pula pembela keadilan”, terang Alam. Alam melanjutkan kita harus terus memperjuangkan keadilan itu sendiri demi terciptanya kedamaian di tengah umat manusia di muka bumi ini.

Sementara, peserta pelatihan ELSAM, Steven, yang merupakan pembela HAM di wilayah rentan konflik, menyampaikan bahwa isi-isu seperti itu, sebenarnya di Papua sangat banyak. Bukan saja isu berdimensi agama melainkan sektor lain juga. Jadi, perlu dan penting saling mendorong dan menguatkan jaringan kerja ini dengan cara mensinergikan advokasi. “Karena peristiwa demikian ujungnya terjadi pelanggaran HAM”, lanjut Steven.

Salah satu peristiwa berdimensi kebebasan beragama atau berkeyakinan di Tanah Papua yang cukup menyedot perhatian masyarakat adalah kasus Tolikara.

Harapan Alam, kedepan kita dapat membangun jaringan komunikasi yang efektif. Dan para pembela HAM di Papua juga, bisa mengadvokasi isu-isu berdimensi agama atau keyakinan maupun isu aspek lainnya. “Semoga kita bisa mengangkat dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan secara adil”, ajaknya.

Penulis: Lian Gobai
Editor: Diany

share on:

Leave a Response