Lika Liku LIPI untuk Papua

adriana

Pada Jumat 26 Agustus 2016, kami para peserta kursus dasar pembela HAM melakukan audiensi dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). LIPI merupakan Lembaga Pemerintah Non Kementerian Republik Indonesia yang dikoordinasikan oleh Kementerian Negara Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KMNRT), yang beralamat di Jalan Gatot Subroto Jakarta.

Kantor LIPI yang berada di Jalan Gatot Subroto itu relatif mudah diakses dari berbagai titik di sudut Jakarta. Kami menggunakan jasa taxi online. Perjalanan hanya memakan waktu satu jam dari Pasar Minggu.

Gedung yang kami tuju adalah Pusat Penelitian Politik (P2P). Sesampainya di sana, kami disambut di lobi Gedung B oleh seorang staf P2P. Seorang Bapak tengah baya yang menyambut kami dengan ramah, mengantar kami menuju lantai XI dengan menggunakan lift.

Perempuan berbaju batik dan berkacamata itu telah menunggu kami di ruang pertemuan P2P. Ini adalah untuk yang kedua kalinya saya bertemu dengannya. Pertemuan pertama yaitu pada 16 Agustus 2016, di Sekretariat ELSAM. Saat itu kami mendiskusikan Papua dalam konteks politik. Dia adalah Dr Adriana Elisabeth M.Soc. SC. Banyak pengalaman dan materi yang Ibu Adriana bagi dengan kami saat itu. Yang bagi saya sangat luar biasa.

Di lantai XI LIPI itu, Ibu Adriana memperkenalkan kami pada timnya. Aisha dan Septi. Mereka adalah staff peneliti yang mengkaji penyelesaian konflik Papua. “Hallo… teman-teman selamat pagi dan selamat datang di kantor kami LIPI”, suara lembut Ibu Adriana menyapa dan mempersilahkan kami masuk di ruang pertemuan, dibarengi dengan senyuman yang bersahabat. Sambutan yang cukup hangat.

Seperti yang kita tahu, selama ini LIPI merekomendasikan penyelesaian kasus Papua melalui jalur dialog. “Untuk menyelesaikan kasus-kasus yang selama ini terjadi di Tanah Papua tidaklah mudah. Banyak kendala yang dihadapi,” ujar peneliti senior yang lahir di Jakarta pada 8 Juni 1963 itu mengawali sharing pengalamannya. “Kurangnya dukungan dalam hal finansial karena riset yang dilakukan di Tanah Papua membutuhkan biaya yang tidak sedikit dengan waktu penelitian yang sangat singkat, menjadi kendala utama,” lanjutnya.

Perempuan yang telah menekuni kajian Papua sejak 2004 ini, mengatakan kendala lain yang sering dihadapi adalah dalam proses memberikan pemahaman kepada elemen-elemen yang mempunyai pengaruh di Tanah Papua terkait kajian LIPI dalam rekomendasi penyelesaian kasus Papua melalui jalur dialog. Menurutnya adanya saling curiga, saling tidak mempercayai, pendapat yang berseberangan dengan yang lainnya.

“Bahkan tidak jarang juga pemerintah juga sering mencurigai kami, bahwa penelitian kami mendukung orang Papua yang minta merdeka, maka sering kami ditegur pemerintah ahh…kalian stop dengan penelitian yang hanya memberikan peluang kepada orang Papua untuk merdeka”, sambung perempuan yang menyelesaikan Pendidikan S1 Hubungan Internasional dari FISIP Universitas Jayabaya, Jakarta pada 1987 itu.

Ibu Adriana yang pertama kali ke Papua pada 1992 untuk membantu penelitian pemilu (Perspektif Kaum Muda tentang Pemilu) PPW LIPI itu melanjutkan “Padahal kami hanya mengkaji persoalan secara ilmiah ,secara akademik, ini loh masalahnya dan bisa diselesaikan dengan cara berdialog, masalah bisa diselesaikan dengan duduk bersama dan berdialog,” katanya.

Tim LIPI dan Ibu Adriana menambahkan, bahwa sebagai sebuah hasil penelitian, mereka juga berusaha keras untuk menyajikan dalam bentuk laporan-laporan yang sederhana dan mudah dipahami oleh banyak kalangan. Namun demikian, penyusunannya tetap melalui proses panjang dan mendalam. Misalnya laporan dalam bentuk POLICY BRIEF, ada yang satu berjudul POLICY BRIEF BERSAMA-SAMA MEMBANGUN PAPUA TANAH DAMAI, yang bekerja sama dengan Jaringan Damai Papua (JDP, 2015) dan DIALOG NASIONAL MEMBANGUN PAPUA DAMAI (April, 2016).

Diskusi berjalan sangat menarik karena dari kami yang berkunjung mengajukan banyak sekali pertanyaan terkait dengan penyelesaian masalah Papua melalui jalur dialog yang sedang ditawarkan oleh LIPI kepada pemerintah dan kepada rakyat Papua. Sesekali Ibu Adriana juga bertanya kepada kami yang berkunjung terkait persoalan kasus Papua.

Di akhir diskusi yang berjalan hingga jam 13:00 WIB itu, Ibu Adriana menginformasikan bahwa LIPI dalam September/Oktober 2016 mendatang akan mempublikasikan review Papua Road MAP sebagai bagian hasil penelitiannya.

Penulis: Reghy
Editor: Diany

share on:

Leave a Response