Kongres Dunia ke-6 Menentang Hukuman Mati 2016: Seruan Global untuk Menghapus Hukuman Mati

20160701_Kongres Hukuman Mati

Pertentangan akan praktik hukuman mati, sebagai salah satu jenis hukuman kuno, bukanlah suatu hal yang baru terdengar. Penolakan terhadap jenis hukuman ini atas dasar hak asasi manusia menjadi salah satu hal yang tidak terbantahkan. Sementara di sisi lain, praktik dibeberapa negara, termasuk Indonesia, Chad, Pakistan, Irak dan Iran, justru malah menunjukkan sebaliknya. Negara-negara ini kembali dan masih menghidupkan praktik keji yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Atas dasar inilah perkumpulan ECPM (Together Against the Death Penalty) menyelenggarakan Kongres Dunia ke-6 Menentang Hukuman Mati (6th World Congress Against Death Penalty) yang diselenggarakan di Oslo, Norwegia mulai dari 21 sampai 23 Juni 2016.

Sebagai gerakan kampanye abolisionis inernasional, Kongres ini berhasil mengumpulkan ribuan aktor-aktor kunci dari lebih 90 negara untuk melawan hukuman mati di lima benua, termasuk 30 menteri dan 300 diplomat, aktor-aktor masyarakat sipil, ahli, jurnalis, pengacara, pelaku bisnis dan lain-lain. Tidak hanya itu, Kongres ini juga dilengkapi dengan 80 pembicara dan saksi-saksi yang membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka terhadap praktik hukuman mati.

Pada acara pembukaan Kongres yang berlangsung di Oslo Opera House dan dihadiri oleh sejumlah menteri dari Norwegia, Prancis, Swiss, Malaysia, Republik Afrika Tengah, Palestina, Libanon, Kamboja, Australia, Sri Lanka, Spanyol dan Italia, terlihat betapa besarnya komitmen sejumlah negara, seperti Republik Demokratik Kongo dan Mongolia, yang akan mendukung resolusi PBB untuk moratorium hukuman mati. Komitmen lain untuk menghapuskan hukuman mati juga ditunjukkan oleh negara dari benua Afrika lainnya, Guinea, yang akan mengumumkan sistem hukum pidana mereka yang mencabut pidana mati untuk semua jenis kejahatan pada 1 Juli 2016. Praktik-praktik ini menunjukkan betapa besarnya inisiatif masyarakat internasional untuk secara bahu membahu meniadakan praktik ini.

Bahkan pada upacara pembukaan tersebut, Paus Fransiskus pun turut menyampaikan pesannya melalui video yang menegaskan bahwa “hak untuk hidup merupakan hak yang tidak dapat diganggu gugat dan merupakan pemberian dari Tuhan yang juga dimiliki oleh terpidana.” Atas dasar inilah, beliau kemudian mengundang “semua pihak untuk tidak hanya bekerja dalam menghapuskan hukuman mati, tetapi juga perbaikan bagi kondisi rumah tahanan, sehingga martabat kemanusiaan mereka yang ditahan dapat terpenuhi.”

20160623_Kongres Menentang Hukuman Mati1Selama dua hari panel diskusi diselenggarakan, banyak hal yang mencuat menjadi bahan diskusi. Dalam pleno diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Seree Nonthasoot, Perwakilan Thailand untuk AICHR, menunjukkan bagaimana kawasan Asia mengalami kemunduran dalam hal pelaksanaan hukuman mati. Mulai dari Pakistan dan Indonesia yang kembali menghidupkan hukuman mati, hingga rencana Pemerintah Filipina terpilih yang akan mengaktifkan kembali pidana mati dalam praktik.

Panel diskusi lain yang juga diangkat dalam Kongres ini adalah terkait dengan kebutuhan politik di sejumlah negara – seperti Tiongkok, Mesir, Chad dan Tunisia yang baru-baru ini merevisi Undang-Undang Anti-Terorisme mereka – untuk menggunakan hukuman mati sebagai langkah untuk memerangi terorisme. Para pembicara yang terdiri dari pengacara dari Tunisia, Chad dan Pakistan, serta perwakilan masyarakat sipil menegaskan bahwa tidak adanya efek jera yang timbul dari hukuman mati untuk memerangi terorisme.

Permasalahan selanjutnya yang menjadi bahan diskusi adalah mengenai strategi untuk mengatasi tantangan-tantangan praktis bagi penyandang disabilitas, migran dan kelompok minoritas lain yang menerima pidana mati. Selain itu, wacana akan perlunya memiliki jenis hukuman alternatif selain pidana mati juga mencuat dalam diskusi bersama Prof. William A. Schabas, Sumeer Verma, Prof. George F. Kain dan James Scott.

Tidak hanya diskusi-diskusi kritis saja, Kongres ini juga diisi oleh acara sampingan, seperti loka karya untuk membangun strategi dalam pergerakan abolisi hukuman mati, termasuk berkomunikasi dengan eksekutif dan legislatif, media, pengacara, serta generasi muda.

Pada akhirnya, Kongres ini resmi ditutup pada tanggal 23 Juni 2016 di Oslo City Hall yang diiringi dengan mars global menentang hukuman mati. Dalam upacara penutupan ini dicapailah kesepakatan global di antara peserta Kongres dalam Deklarasi Final yang mengundang organisasi antar pemerintahan, organisasi internasional, perwakilan negara-negara yang hadir dalam Kongres, negara-negara retensionis dan abolisionis, anggota parlemen, lembaga HAM nasional, aktor-aktor bisnis dan budaya, serta aktor-aktor masyarakat sipil untuk secara bersama-sama mengambil langkah dan bergerak ke arah penghapusan hukuman mati secara utuh dan universal.

Penulis: Ruben Sumigar

share on:

Leave a Response