Kebebasan Berekspresi Di Indonesia: Hukum, Dinamika, Masalah Dan Tantangannya

Sampul Kebebasan Berekspresi

Sampul Kebebasan BerekspresiKebebasan Berekspresi Di Indonesia: Hukum, Dinamika, Masalah Dan Tantangannya

Jaminan terhadap pelaksanaan kebebasan ini menjadi syarat penting yang memungkinkan berlangsungnya demokrasi dan partisipasi publik dalam pembuatan berbagai keputusan. Warga negara tidak dapat melaksanakan haknya secara efektif dalam pemungutan suara atau berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan publik apabila mereka tidak memiliki kebebasan untuk mendapatkan informasi dan mengeluarkan pendapatnya serta tidak mampu untuk menyatakan pandangannya secara bebas. Kebebasan berekspresi tidak hanya penting bagi martabat individu, tetapi juga untuk berpartisipasi, serta memastikan adanya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan negara.

Pembicaraan mengenai kebebasan berekspresi semakin mendapatkan tempat dan terbuka luas seiring dengan pesatnya inovasi dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet, yang memberikan dampak radikal bagi penikmatan hak atas kebebasan berekspresi. Navi Pillay (2011) menyatakan internet merupakan tren global yang paling kuat, dan hal tersebut telah menghadirkan suatu tantangan HAM yang sangat kompleks. Internet telah menghapuskan berbagai upaya untuk membentuk monopoli informasi dan berita, sehingga mampu mendorong beragam pengambilan keputusan pemerintah secara transparan dan akuntabel. Dalam konteks pemajuan hak asasi manusia, besarnya pengguna internet ini telah melahirkan banyak peluang, dia menjadi alat yang sangat diperlukan untuk mewujudkan berbagai hak asasi manusia, memberantas ketidakadilan, dan mempercepat pembangunan dan kemajuan manusia. Internet merupakan salah satu komponen utama dari ‘revolusi informasi’, karena internet dapat memainkan peran yang berpengaruh dalam menginformasikan suara-suara yang berbeda, sehingga menciptakan debat politik dan budaya yang dinamis. Sifatnya yang global sekaligus terdesentralisasi dan interaktif, serta infrastrukturnya yang independen memungkinkan internet untuk melampaui batas‐batas nasional.

Namun demikian, kehadiran internet juga telah bermacam bentuk represi baru terhadap kebebasan berekspresi. Sejumlah negara menerapkan kontrol ketat terhadap lalu lintas konten dan informasi di internet. Tidak hanya menggunakan sarana pemblokiran dan penapisan untuk menyensor informasi yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan pemerintah berkuasa, beberapa negara bahkan menerapkan sanksi pidana yang ketat (termasuk penjara), untuk mengkriminalisasi ekspresi yang sah (legitimate expression). Meningkatnya pemanfaatan teknologi internet juga melahirkan tantangan baru dalam perlindungan hak atas privasi, terutama dengan makin meningkatnya praktik intrusi terhadap data dan informasi pribadi, khususnya melalui tindakan mass‐surveillance.

Hadirnya buku ini sendiri merupakan bagian dari respon terhadap berbagai perkembangan tersebut, sekaligus berupaya menjawab kondisi paradoksal atas kebebasan berekspresi di Indonesia.Mengapa dikatakan paradoksal? Oleh karena pada satu sisi perbincangan mengenai kebebasan berekspresi begitu mengemuka, terutama seiring banyaknya kasus pelanggaran kebebasan berekspresi sebagai dampak massifnya penggunaan teknologi internet, namun diskursus pengetahuan mengenai kebebasan berekspresi kurang tersedia dengan mencukupi. Akibatnya, dalam banyak perdebatan sering kali publik atau bahkan pengambil kebijakan melupakan esensi dari perlindungan kebebasan berekspresi, termasuk di dalam pencipataan kebijakan yang mereka lakukan.

Untuk membaca buku ini, silakan klik unduh

share on:

Leave a Response