UU P3H Kembali Makan Korban: Petani Lumajang Dipukuli dan Ditangkap Petugas Kehutanan

20150814_173059

ELSAM, Lumajang – Tarik alias P. Joyo bin Ilik (65 tahun) seorang Petani asal Dusun Sidorejo, Desa Pandansari, Kec. Sumber, Kab. Probolinggo menjadi korban represif UU No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan hutan (UU P3H). Joyo ditangkap pada tanggal 28 Juli 2015 di gubuknya yang berada dilahan garapan masyarakat Blok Pasang masuk kawasan hutan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Joyo menjadi tahanan Kepolisian Resor Lumajang dan saat ini mendekam di tahanan Kepolisian Sektor Kedungjajang.

Anggota Public Interest Lawyer Network (PIL-Net) yaitu Ronald Siahaan, Abdul Wahid, dan Syahrul Fitra pada Jumat (14/08/2015) mendatangi Mapolsek Kedungjajang untuk membesuk Pak Joyo sekaligus menanyakan latar belakang kejadiannya. Mereka akan melakukan upaya bantuan hukum terhadap kasus yang menimpa Pak Joyo.

Berdasarkan informasi yang diterima PIL-Net, Joyo ditahan oleh Kepolisian Resort Lumajang karena diduga telah melakukan tindak pidana melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin Menteri dan atau menyuruh, mengorganisasian, atau penggerakan penggunaan kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 (1) huruf a jo. Pasal 17 (2) huruf b UU P3H subsider Pasal 94 (1) huruf a jo. Pasal 19 huruf a UU P3H.

Pada tahun 2015, Joyo terlibat dalam Kelompok Masyarakat yang akan mengajukan permohonan hak tanah dalam Kawasan Hutan melalui program pemerintah bernama Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah (IP4T) dalam Kawasan Hutan sebagaimana amanat Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri RI, Menteri Kehutanan RI, Menteri Pekerjaan Umum RI dan Kepala BPN RI Nomor: 79 Tahun 2014, Nomor: PB.3/Menhut-11/2014, Nomor: 17/PRT/M/2014, Nomor: 8/SKB/X/2014 Tentang Tata Cara Penyelesaian Tanah Di Dalam Kawasan Hutan. Namun, di tengah proses tersebut, Joyo dikriminalkan.

Berawal pada Selasa, 28 Juli 2015 sekitar jam 10 pagi, Sumi (istri Joyo) melihat serombongan orang berjumlah kurang lebih 30 orang yang terdiri dari Petugas Perhutani, Polisi Kehutanan, Polisi dan anggota LMDH datang ke areal lahan yang digarap Joyo dan menangkap Joyo sesaat setelah memberi makan kambing.

Sumi melihat diantara rombongan tersebut, Joyo telah ditelanjangi dan wajah sebelah kiri memar dan berdarah. Selanjutnya, Joyo dibawa naek sepeda motor oleh Mantri Perhutani bernama Tawar dan dikawal orang berseragam Polisi Hutan.

Menurut pengakuan Joyo kepada Sumi, uang Joyo di tas pinggang Joyo senilai 3 juta lebih dirampas rombongan yang menangkap Joyo. Bahkan Joyo dipukuli dan dipaksa mengakui bahwa uang tersebut adalah hasil pungutan biaya pengkavlingan tanah hutan. Padahal uang tersebut merupakan hasil jerih payah Joyo bekerja dan menjual sayurannya.

Ditangkapnya petani asal Probolinggo ini dengan menggunakan UU P3H sekali lagi telah menjadi bukti bahwa UU ini telah menjadi ancaman yang serius bagi warga yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan. Sebelumnya pada Maret 2015, Nenek Asyani (63 tahun) dipaksa menjalani proses hukum akibat dituduh mencuri papan kayu Perhutani di Dusun Kristal, Desa Jatibanteng, Situbondo, Jawa Timur. Nenek Asyani divonis bersalah melakukan perbuatan yang diatur Pasal 12 huruf d UU P3H dan dihukum penjara selama 1 tahun dan denda Rp 500 juta subsider satu hari kurungan dengan masa percobaan 1 tahun 3 bulan oleh Pengadilan Negeri Situbondo.

UU P3H terbukti telah banyak mengancam dan memenjarakan masyarakat lokal yang manggantungkan hidupnya dari sumber daya hutan. Hal itulah yang menyebabkan koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Anti Mafia Hutan melakukan judicial review terhadap UU ini ke Mahkmah Konstitusi dan meminta MK untuk membatalkan seluruh isi UU P3H. Selama pengujian UU P3H di MK belum dikabulkan, maka kriminalisasi terhadap masyarakat sekitar hutan akan terus berlangsung.[]

Penulis: Abdul Wahid
Editor: Ari Yurino

share on:

Leave a Response